WOW! Indonesia Gebrak BRICS dengan Janji Manis Pendidikan, Apa Itu?

MALANG – Indonesia menunjukkan komitmen kuatnya dalam memajukan pendidikan vokasi dan kejuruan (TVET) di kancah internasional. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, dengan tegas menyatakan bahwa TVET adalah pilar utama dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat. Penegasan ini disampaikan dalam forum BRICS ke-12 yang menjadi ajang penting bagi negara-negara anggota untuk berkolaborasi dan berbagi praktik terbaik dalam bidang pendidikan.

Fokus Pemerintah: Tingkatkan Kualitas SDM Lewat TVET

Menteri Brian menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia sangat berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusia (SDM) melalui penguatan TVET. “TVET memegang peranan yang sangat penting dalam membekali individu dengan keterampilan praktis yang sangat dibutuhkan di dunia kerja saat ini,” ujarnya dalam keterangan resminya pada Sabtu (7/6/2025). Keterampilan ini, lanjutnya, akan membantu mengisi kesenjangan keterampilan yang ada di pasar tenaga kerja dan meningkatkan daya saing angkatan kerja Indonesia secara keseluruhan. Pemerintah menyadari betul bahwa investasi dalam pendidikan vokasi dan kejuruan adalah kunci untuk menciptakan tenaga kerja yang kompeten dan siap menghadapi tantangan global.

Revitalisasi Sekolah Kejuruan: Akses Pendidikan yang Lebih Luas

Sejak tahun 2016, Indonesia telah memprioritaskan perluasan akses TVET melalui program revitalisasi sekolah kejuruan. Hingga saat ini, terdapat lebih dari 14.000 sekolah kejuruan menengah yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, melayani lebih dari 4,9 juta siswa. Upaya ini juga mencakup peningkatan inklusivitas bagi siswa berkebutuhan khusus, memastikan bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi mereka. Pemerintah terus berupaya untuk memastikan bahwa pendidikan vokasi dan kejuruan dapat diakses oleh semua kalangan, tanpa terkecuali.

Dukungan untuk Siswa Kurang Mampu: Beasiswa PIP

Pemerintah juga memberikan perhatian khusus kepada siswa dari keluarga kurang mampu melalui penyediaan beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP). Program ini bertujuan untuk meringankan beban ekonomi keluarga dan memastikan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap dapat melanjutkan pendidikan mereka. Dengan adanya beasiswa PIP, diharapkan tidak ada lagi anak yang putus sekolah karena alasan ekonomi. Pemerintah percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa memandang latar belakang ekonomi mereka.

Program Diktisaintek Berdampak: Politeknik sebagai Pusat Inovasi

Dalam konteks pendidikan tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah meluncurkan Program Diktisaintek Berdampak. Program ini dirancang untuk menjadikan politeknik sebagai pusat pendidikan terapan dan inovasi. “Kami memperluas program diploma dan gelar terapan, serta memperkuat kemitraan industri-akademisi untuk memastikan lulusan kami dibekali dengan keterampilan abad ke-21,” jelas Menteri Brian. Kemitraan yang kuat antara industri dan akademisi akan memastikan bahwa kurikulum yang diajarkan relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Transformasi Digital dan Ekonomi Hijau: Integrasi dalam Sistem TVET

Menteri Brian juga menyoroti dukungan Indonesia terhadap integrasi transformasi digital dan kompetensi ekonomi hijau ke dalam sistem TVET. Hal ini sejalan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki keterampilan di bidang ekonomi hijau. Pemerintah berupaya untuk mempersiapkan generasi muda Indonesia agar siap menghadapi tantangan dan peluang di era digital dan ekonomi hijau. Dengan demikian, lulusan TVET akan memiliki daya saing yang tinggi di pasar tenaga kerja global.

Bergabung dengan BRICS: Peluang Kerja Sama Internasional

Sebagai anggota baru dalam kerja sama BRICS (Brazil, Rusia, India, China, dan South Africa), Indonesia berkomitmen untuk berpartisipasi aktif dan melakukan pembelajaran bersama. “Kami sangat ingin berkontribusi pada tujuan kerja sama BRICS dan meminta bimbingan serta kerja sama ke depan,” ungkapnya. Keikutsertaan Indonesia dalam BRICS membuka peluang untuk bertukar pengalaman dan praktik terbaik dengan negara-negara anggota lainnya dalam bidang pendidikan vokasi dan kejuruan.

Kesepakatan Penting: TCA Charter dan BRICS Network University

Dalam forum tersebut, telah disepakati pula dokumen TVET Cooperation Alliance (TCA) Charter sebagai pedoman kerja sama TVET. Selain itu, Indonesia secara resmi mengakses nota kesepahaman BRICS Network University (NU), yang membuka peluang bagi 22 universitas di Indonesia untuk bergabung dalam berbagai kelompok tematik. Hal ini akan memperkuat jaringan kerja sama antara universitas-universitas di Indonesia dengan universitas-universitas di negara-negara BRICS.

Masa Depan Pendidikan yang Lebih Baik: Inisiatif Bersama BRICS

Pertemuan ini menjadi momen penting bagi negara-negara anggota BRICS untuk saling berbagi praktik terbaik dan mendorong inisiatif bersama dalam pelatihan kejuruan, pengembangan keterampilan, serta pembangunan ekosistem pendidikan tinggi yang tangguh menghadapi tantangan global, demi menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Kerjasama ini diharapkan dapat menghasilkan inovasi-inovasi baru dalam bidang pendidikan dan membantu menciptakan tenaga kerja yang kompeten dan berdaya saing tinggi.

“Kami percaya bahwa dengan kerja sama yang erat antar negara-negara BRICS, kita dapat menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik dan lebih inklusif bagi semua,” pungkas Menteri Brian.