BANYUWANGI, Zona Malang — Taman Blambangan berubah menjadi lautan warna pada Sabtu siang, 12 Juli 2025, ketika Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) kembali menebar pesona. Mengusung tema “Ngelukat — Usingnese Traditional Ritual”, karnaval yang tercatat dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata ini memvisualisasikan siklus hidup manusia lewat tradisi Suku Osing, mulai dari kelahiran hingga pernikahan, bahkan doa keselamatan di masa tua.
Kehadiran ribuan penonton—termasuk Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, M.M. dan istri—menjadi saksi bagaimana budaya lokal naik panggung dengan sentuhan mode kontemporer. (detiknews, ANTARA News)
Apresiasi Bupati Malang
“Banyuwangi berhasil membuktikan bahwa warisan budaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan aset masa depan,” ujar Sanusi usai menikmati parade dari tenda VVIP. Ia datang atas undangan khusus Bupati Banyuwangi Hj. Ipuk Fiestiandani, bergabung dengan Gubernur Jawa Timur, konsul jenderal Jepang dan Australia, hingga perwakilan sejumlah kementerian. Kehadiran mereka mempertegas posisi BEC sebagai panggung diplomasi kebudayaan.
Gandrung 100 Penari dan Gaun Rancangan Desainer Muda
Karnaval dibuka Tari Gandrung yang dibawakan 100 penari pilihan—sapaan selamat datang yang menggugah semangat penonton. Tak lama, Putri Indonesia 2025 Firsta Yufi Amarta Putri melenggang di catwalk natural Taman Blambangan dengan balutan busana etnik futuristik. Tepuk tangan membahana, menandai antusiasme publik sekaligus memberi ruang ekspresi baru bagi desainer muda Banyuwangi.
Lima Subtema, Satu Benang Merah
Rangkaian parade menampilkan lima subtema: Selapan (selamatan bayi 35 hari), Mudun Lemah (pertama kali menginjak tanah), Sunatan, Lamaran, dan Nikahan. Setiap rombongan meramu detail tradisi Osing dengan teknik tailoring modern—dari sulam benang emas motif padi hingga hiasan siger akrilik yang gemerlap di bawah cahaya sore. Visual ini menunjukkan bagaimana BEC menjadi jembatan antara kearifan lokal dan kreativitas global.
Ekonomi Kreatif Bergerak
Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, BEC mampu mendongkrak kunjungan wisata hingga 20 persen pada setiap pelaksanaannya. Hotel, homestay, transportasi hingga warung kopi memanen limpahan tamu; sementara di pelataran Sekarkijang Creative Fest, puluhan pelaku UMKM memamerkan batik gajah oling, kopi single origin Ijen‑Raung, hingga aksesori kulit khas Rogojampi. Nyaris tak ada lapak yang sepi, bukti konkret bahwa budaya dan ekonomi bisa berkelindan erat. (detikcom)
Kata Ipuk Fiestiandani
Dalam sambutannya, Bupati Ipuk Fiestiandani menegaskan BEC adalah “laboratorium kebanggaan” bagi warga Banyuwangi. “Setiap peserta menarasikan kearifan, warisan, dan kebanggaan akan akar budaya lokal. Banyuwangi kaya seni tradisi; kami tak pernah kehabisan tema,” ungkapnya. Tahun depan, pihaknya menggoda penonton dengan wacana tema yang lebih ekologis, berfokus pada harmoni manusia dan alam.
Jejak Diplomasi Budaya
Masuknya BEC dalam KEN memastikan dukungan penuh pemerintah pusat. Tahun ini, Kemenparekraf menaruh harapan agar format karnaval berbasis tradisi bisa direplikasi kabupaten lain. “BEC menjadi simpul budaya dan spiritual, bukan hanya bagi Banyuwangi, tapi juga Jawa Timur,” kata Gubernur Khofifah Indar Parawansa di sela-sela kegiatan. Kehadiran diplomat Jepang dan Australia menambah nilai diplomasi, membuka peluang kolaborasi promosi pariwisata lintas negara.
Kritik dan Harapan
Meski menuai pujian, sejumlah pengamat pariwisata menekankan pentingnya keberlanjutan. Pelestarian lingkungan sekitar venue, pembatasan sampah plastik, hingga pendampingan UMKM pascacarnaval menjadi pekerjaan rumah. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengklaim telah menyiapkan “Green Carnival Protocol” sebagai respon atas kritik tersebut.
Penutup
Menjelang senja, langit merah Banyuwangi seolah memberi lampu latar alami ketika peserta terakhir—pemenang Best Costume BEC 2011‑2025—menutup parade. Sorak penonton berpadu dengan semilir angin Selat Bali, menandai berakhirnya pesta budaya yang bukan hanya ajang tontonan, melainkan juga perayaan identitas. Bagi Bupati Malang dan tamu kehormatan lain, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kebudayaan Jawa Timur masih menyimpan banyak cerita—siap digali, dipresentasikan, dan dibanggakan di panggung dunia.







