MALANG – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang, KH Isroqunnajah, menyuarakan keprihatinan mendalam atas maraknya promosi minuman keras (miras) secara terbuka di media sosial oleh para influencer.
Menanggapi fenomena yang dinilainya sebagai tantangan terbuka terhadap nilai-nilai agama ini, PCNU Kota Malang berencana akan menggelar pertemuan khusus bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang pada Senin pekan depan.
Pernyataan tegas ini disampaikan Gus Is, sapaan akrabnya, pada hari ini, Jumat (18/7/2025). Ia mendesak Pemerintah Kota Malang untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap regulasi yang ada terkait peredaran dan promosi minuman beralkohol, terutama di ranah digital yang sulit diawasi.
“Pemerintah harus membaca ulang regulasi yang ada. Apakah sudah cukup menutup semua celah? Kalau belum, perlu ada tindakan nyata. Jika gerai miras itu belum berizin, maka harus ditindak tegas. Penegakan hukum itu penting untuk memberi efek jera,” tegas Gus Is.
Menurutnya, fenomena ini bukan lagi sekadar pelanggaran yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan telah menjadi sebuah bentuk degradasi moral yang serius.
Ia memandang tindakan mempromosikan miras secara sadar dan masif di ruang publik sebagai sebuah perlawanan terhadap norma sosial dan ajaran agama.
“Ini bukan lagi sekadar pelanggaran biasa. Ketika seseorang dengan sadar mempublikasikan promosi miras, itu sudah masuk kategori perlawanan terhadap ajaran Tuhan, bukan hanya terhadap masyarakat,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Sikap keras dari PCNU ini dipicu oleh viralnya video promosi sebuah toko miras di Jalan Soekarno-Hatta yang melibatkan kreator konten, Amrizal Nuril Abdi alias King Abdi.
Dalam video tersebut, sang influencer tidak hanya menampilkan berbagai jenis produk miras tetapi juga menggunakan narasi yang dianggap dapat memberikan pengaruh buruk bagi generasi muda.
Pertemuan antara PCNU dan MUI Kota Malang pada awal pekan depan diharapkan dapat merumuskan langkah-langkah strategis bersama.
“Insyaallah hari Senin akan kami bahas secara khusus bersama para ulama dan pengurus MUI. Ini perlu disikapi secara serius agar ada langkah bersama,” tutup Gus Is.







