Ratusan Guru Difabel Ikut UP PPG Daljab 2025, Kemenag Tegaskan Komitmen Inklusivitas

Zona MalangKementerian Agama menggelar Uji Pengetahuan Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan 2025 untuk angkatan ketiga yang juga diikuti ratusan guru difabel. Dirjen Pendidikan Islam Amien Suyitno menegaskan perhatian khusus diberikan kepada peserta berkebutuhan khusus sebagai wujud penyelenggaraan pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan setara.

“Pendidikan adalah hak setiap insan, tanpa terkecuali. Kita ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun guru yang tertinggal hanya karena keterbatasan fisik. Inklusivitas bukan sekadar konsep, melainkan amanat moral dan spiritual yang harus diwujudkan dalam setiap kebijakan,” ujar Suyitno di Jakarta, Minggu 19 Oktober 2025. Ia menambahkan, guru difabel bukan objek belas kasihan, melainkan pejuang pengetahuan yang perjuangannya wajib diakui dan difasilitasi secara bermartabat.

Menurut Suyitno, pelaksanaan PPG yang inklusif menjadi bagian penting dari reformasi pendidikan Islam di Kemenag. Kehadiran guru difabel di ruang PPG disebutnya sebagai inspirasi bagi seluruh insan pendidikan. “Pendidikan Islam harus menjadi pionir dalam praktik keadilan sosial. Ketika kita bicara moderasi dan keseimbangan, maka inklusivitas menjadi wajah nyata dari nilai-nilai itu.

Afirmasi bagi guru difabel adalah bentuk keberpihakan yang luhur,” tuturnya. Ia menekankan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menghalangi kemuliaan profesi, justru semangat para peserta menjadi energi moral untuk terus memperbaiki sistem.

Direktur Pendidikan Agama Islam sekaligus Panitia Nasional PPG Kemenag, M. Munir, menjelaskan dukungan kepada peserta difabel diberikan melalui pendampingan teknis dan moral selama proses ujian. “Kita ingin memastikan, tidak ada satu pun guru yang tertinggal hanya karena keterbatasan fisik. Semua guru, termasuk yang difabel, berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh sertifikat pendidik profesional. Pendampingan ini menjadi wujud nyata komitmen Kemenag terhadap prinsip inklusivitas,” katanya saat memantau pelaksanaan UP secara daring.

Munir menegaskan kehadiran pendamping tidak hanya administratif, tetapi juga menjadi bagian dari sistem dukungan psikologis bagi peserta.

“Ya sudah, diikutin nanti dibantu Bu ya, pendampingnya tolong dibantu, dikawal. Nanti data-data yang difabel insya Allah akan menjadi catatan lah buat kita nanti ya,” ucapnya. Perhatian terhadap peserta difabel disebut tidak berhenti pada tahap UP, melainkan berlanjut hingga Uji Kinerja. “Mudah-mudahan semuanya lancar dan lulus. Bismillah, nanti kita kawal yang difabel-difabel ini sampai tuntas. Tapi tetap diikuti prosedurnya, disiapkan UKin-nya dengan baik,” tegas Munir.

Ia menambahkan, kebijakan afirmatif ini merupakan langkah strategis jangka panjang. Model afirmasi akan dijaga keberlanjutannya dengan perbaikan mekanisme teknis, perluasan jangkauan, serta penyiapan instrumen yang lebih ramah bagi peserta difabel.

Kemenag berharap penyelenggaraan UP PPG Daljab Batch 3 berjalan lancar, adil, dan memberi pengalaman positif bagi seluruh peserta. “PPG bukan hanya ujian kompetensi, tetapi juga ruang penghargaan bagi dedikasi guru. Negara hadir untuk memastikan setiap guru, tanpa terkecuali, mendapatkan hak dan pengakuan yang setara,” pungkas Munir.