Zona Malang – Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar Sidang Isbat penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa, 17 Februari 2026. Sidang yang dipimpin langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar ini menjadi rujukan resmi bagi umat Islam di Indonesia untuk memulai ibadah puasa Ramadan tahun ini.
Sidang Isbat berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta. Acara ini melibatkan berbagai pihak terkait, termasuk perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), duta besar negara-negara Islam, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ahli falak, anggota DPR, serta perwakilan Mahkamah Agung.
Proses sidang terbagi dalam tiga tahap utama. Tahap pertama berupa pemaparan posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi (hisab). Tahap kedua melibatkan verifikasi hasil rukyatul hilal dari 37 titik pemantauan di berbagai wilayah Indonesia. Tahap terakhir adalah musyawarah untuk pengambilan keputusan, yang kemudian diumumkan secara resmi kepada publik.
Pemerintah tetap menggunakan metode integrasi hisab dan rukyat sesuai Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 2 Tahun 2004. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menegaskan pentingnya menunggu hasil sidang ini. “Masyarakat diimbau untuk tidak terburu-buru dan menunggu pengumuman resmi pemerintah,” ujarnya.
Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal dengan prinsip matla’ global. Penetapan ini tertuang dalam Maklumat Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Muhammadiyah juga menetapkan 1 Syawal 1447 H (Idul Fitri) pada Jumat, 20 Maret 2026.
Direktur Urusan Agama Islam Kemenag, Arsad Hidayat, menyebutkan bahwa salah satu lokasi rukyatul hilal yang dipertimbangkan adalah masjid di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) jika kondisi memungkinkan. Selain itu, Kemenag sedang menyiapkan Peraturan Menteri Agama (PMA) baru sebagai dasar hukum pelaksanaan sidang isbat, guna memperkuat legitimasi dan memberikan kejelasan mekanisme penetapan awal bulan Hijriah.
Tambahan Fakta
• Berdasarkan kalender Hijriah resmi Kemenag, awal Ramadan 1447 H diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, meskipun keputusan akhir bergantung pada hasil rukyatul hilal. Perbedaan satu hari dengan Muhammadiyah sering terjadi karena pendekatan berbeda: pemerintah mengandalkan pengamatan hilal lokal, sementara Muhammadiyah murni menggunakan perhitungan astronomi global.
• Prediksi astronomi internasional menunjukkan konjungsi (new moon) terjadi sebelum matahari terbenam pada 17 Februari 2026, sehingga hilal berpotensi terlihat di beberapa wilayah dunia pada hari itu, tetapi visibilitas di Indonesia kemungkinan rendah karena faktor ketinggian dan elongasi hilal yang belum memenuhi kriteria MABIMS (Malaysia, Brunei, Indonesia, Singapura).
• Perbedaan penetapan serupa juga kerap terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, seperti Ramadan 1446 H di mana Muhammadiyah memulai puasa lebih awal dibandingkan keputusan pemerintah.
• Sidang isbat ini diharapkan disiarkan secara langsung melalui media resmi Kemenag untuk memastikan transparansi dan kesatuan umat.
Umat Islam diimbau menunggu pengumuman resmi pasca-sidang pada 17 Februari 2026 agar pelaksanaan ibadah puasa berjalan harmonis dan sesuai ketentuan.







