Zonamalang.com – Malang Creative Center (MCC) lantai 4 menyaksikan transformasi dinding menjadi kanvas ekspresi publik pada Senin, 25 Mei 2026. Polresta Malang Kota menginisiasi kompetisi mural bertema “Suara Kita” sebagai bagian perayaan HUT Bhayangkara ke-80, menandai pendekatan baru dalam membangun jembatan komunikasi visual antara aparat keamanan dan warga kota.
Kompetisi yang berlangsung selama empat jam—dari pukul 10.00 hingga 14.00 WIB—ini diikuti 47 seniman terpilih hasil kurasi tanggal 19-20 Mei 2026. Keberagaman peserta menjadi sorotan utama, dengan keterlibatan komunitas mural lokal hingga seniman penyandang disabilitas yang membuktikan semangat inklusivitas acara.
Pembukaan Simbolis dan Visi Strategis
KBP. Putu Kholis Aryana selaku Kapolresta Malang Kota meresmikan kompetisi dengan memukul gong pembuka. Dalam arahannya, pejabat kepolisian tersebut menggarisbawahi pentingnya merayakan momentum Hari Bhayangkara melalui aksi nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Menurut Kombes Pol Putu Kholis Aryana, inisiatif ini dirancang untuk menciptakan platform ekspresi kreatif yang sekaligus edukatif. Beliau menegaskan keterbukaan institusi terhadap kritik konstruktif, dengan catatan penyampaiannya dilakukan secara bertanggung jawab. Seni mural dipilih karena kemampuannya menjangkau berbagai segmen masyarakat melalui bahasa visual yang universal.
Strategi Pencegahan Vandalisme Berbasis Komunitas
AKP Rakhmat Adji Prabowo, Kasatreskrim Polresta Malang Kota, mengungkapkan bahwa di balik kompetisi artistik ini terdapat agenda strategis jangka panjang. Kegiatan ini merupakan implementasi pendekatan preemtif dan preventif dalam mengatasi problematika vandalisme yang kerap terjadi di wilayah perkotaan.
“Strategi kami adalah mengakomodasi energi kreatif anak muda, terutama pegiat seni jalanan, agar tersalurkan melalui jalur yang konstruktif dan legal,” ungkap AKP Rakhmat dalam keterangannya.
Pejabat kepolisian tersebut menjelaskan bahwa aksi corat-coret ilegal umumnya bersumber dari kebutuhan akan pengakuan eksistensi atau luapan emosi yang tidak menemukan saluran tepat. Praktik vandalisme tidak hanya merusak keindahan visual lingkungan, tetapi juga bertentangan dengan norma kemasyarakatan dan regulasi hukum yang berlaku.
Dengan menyediakan platform resmi bagi para seniman mural, Polresta Malang Kota berupaya mengalihkan potensi vandalisme menjadi produktivitas seni. Pendekatan ini diharapkan dapat menekan angka perusakan properti publik, sekaligus menghasilkan karya seni yang memiliki nilai estetis dan pesan edukatif.
Karya yang dilombakan tidak hanya dievaluasi dari sisi teknik melukis atau komposisi warna. Dewan juri memberikan bobot penilaian tinggi pada muatan pesan moral dan relevansi sosial yang terkandung dalam setiap mural. Orientasi ini sejalan dengan harapan agar karya-karya tersebut dapat berfungsi sebagai media penyampaian pesan keamanan dan ketertiban masyarakat yang mudah dipahami publik.
Respons Positif dan Dampak Sosial
Antusiasme peserta dan pengunjung menunjukkan keberhasilan acara dalam mencapai tujuannya. Selain memberikan hiburan visual, kompetisi ini dinilai berhasil memperkuat ekosistem industri kreatif Kota Malang sambil mempererat hubungan emosional antara institusi kepolisian dan masyarakat sipil.
Pendekatan yang mengedepankan dialog, edukasi, dan partisipasi aktif ini mencerminkan komitmen Polresta Malang Kota dalam menjaga stabilitas kamtibmas melalui cara-cara inovatif. Kolaborasi dengan generasi muda tidak lagi terbatas pada aspek penegakan hukum, melainkan juga pengakuan terhadap hak berekspresi dan beraspirasi mereka.
Paradigma Baru Penjagaan Keamanan Kota
Inisiatif Lomba Mural “Suara Kita” membuktikan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban kota dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih humanis. Dengan menyediakan kuas, cat, dan dinding legal, institusi kepolisian menunjukkan bahwa pembinaan generasi muda dapat dilakukan melalui apresiasi, bukan semata-mata larangan dan sanksi.







