Zona Malang – Sebuah tragedi mengguncang Desa Mentukak, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, pada sore hari Kamis (17/8/2023). Puluhan warga menjadi korban saat jembatan gantung yang mereka tempati tiba-tiba putus, menimbulkan situasi genting yang memerlukan pertolongan dan penanganan cepat.
Peristiwa itu sendiri berlangsung dalam konteks perayaan yang meriah, yaitu Hari Ulang Tahun ke-78 Republik Indonesia. Sejumlah warga telah berkumpul di jembatan gantung tersebut untuk menyaksikan sebuah perlombaan yang bertujuan untuk merayakan momentum penting tersebut.
Perlombaan yang tak biasa ini adalah perlombaan menangkap bebek yang diadakan tepat di atas sungai yang mengalir di bawah jembatan.
Namun, keriuhan dan kegembiraan yang semestinya memenuhi udara tiba-tiba berganti menjadi kepanikan dan kengerian.
Jembatan yang menopang beban warga tersebut tiba-tiba saja putus, mengakibatkan para penonton yang berkumpul di atasnya terhempas ke dalam sungai.
Tidak hanya berupa kecelakaan, insiden ini juga membawa serta nuansa tragis karena terjadi di tengah euforia perayaan kemerdekaan.
Daniel, Ketua Satgas Informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat, memberikan penjelasan mengenai penyebab peristiwa mengerikan ini. Ia mengklaim bahwa jembatan tersebut putus akibat beban yang melebihi kapasitasnya.
Semua berawal dari momen di mana warga sedang asyik menonton perlombaan menangkap bebek yang berlangsung di sungai kering di bawah jembatan.
Ketika penonton berkumpul di atas jembatan, jembatan tersebut tidak mampu menahan beban dan akhirnya putus.
Daniel mengungkapkan bahwa insiden ini telah menyebabkan sebanyak 28 orang menjadi korban.
Dari jumlah tersebut, 23 orang mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam.
Tidak hanya itu, ada juga lima orang yang mengalami patah tulang akibat terjatuh dari ketinggian jembatan yang tiba-tiba ambruk tersebut.
“Kami melihat bahwa korban-korban ini memiliki cedera yang bervariasi, mulai dari luka ringan hingga luka yang cukup serius. Ada pula lima korban yang mengalami patah tulang akibat dampak jatuh tersebut. Hingga saat ini, 27 korban masih berada dalam perawatan di puskesmas setempat. Sedangkan satu korban dengan patah tulang telah dirujuk untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut di rumah sakit daerah,” terang Daniel.
Melihat dampak yang ditimbulkan oleh peristiwa tragis ini, Daniel memberikan nasihat kepada masyarakat Kalimantan Barat maupun daerah lainnya.
Ia mengimbau agar masyarakat senantiasa bijak dalam memilih tempat berkumpul dan menyaksikan acara, terutama di atas jembatan.
Ia menegaskan bahwa kapasitas jembatan memang terbatas, dan kegiatan yang melibatkan banyak orang perlu mempertimbangkan tempat yang aman dan sesuai agar tidak berujung pada malapetaka serupa.
Sebagai tindak lanjut, pihak kepolisian setempat telah memantau dan menyelidiki lokasi kejadian. Petugas sedang berusaha untuk menyelidiki penyebab pasti dari putusnya jembatan gantung tersebut.
Seiring berjalannya waktu, harapannya adalah agar pihak berwenang dapat memberikan penjelasan yang akurat mengenai insiden ini, serta langkah-langkah yang akan diambil untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.***







