Bojonegoro Menjadi Pusat Gaya Hidup Terbaru dengan Gedebok Pisang

MALANG, Zona Malang – Batang pohon pisang atau yang biasa disebut masyarakat Jawa sebagai gedebok, banyak ditemukan di sekitar pedesaan dan seringkali menjadi sampah setelah buah pisangnya dipanen. Namun, di tangan orang yang kreatif, gedebok pisang dapat menjadi barang bernilai ekonomis, bahkan menjadi cemilan bernilai tinggi.

Salah satu contoh pemanfaatan gedebok pisang adalah keripik gedebok pisang yang diproduksi oleh pasangan suami istri, Kirom dan Feri Saputra, di Desa Kedungprimpen, Kecamatan Kanor, Bojonegoro. Keduanya memproduksi aneka souvenir dan cemilan dari pohon pisang di rumahnya sendiri.

Kirom menjelaskan, awal mula merintis usahanya bermula ketika melihat batang pohon pisang banyak di sekitar rumahnya yang terbuang sia-sia dan menjadi sampah. Pada awalnya, warga memanfaatkan gedebok pisang dengan menjualnya dalam bentuk kering, namun harganya semakin rendah.

Pada tahun 2021, setelah pandemi COVID-19 melanda Indonesia, termasuk desanya, Kirom dan suaminya mulai mengembangkan usaha kreatif dengan membuat souvenir dari gedebok pisang, seperti tempat tisu, topi, dan songkok. Kemudian, pada tahun 2024, mereka mengembangkan usahanya dengan membuat keripik gedebok pisang.

Setiap hari, Kirom dan suaminya mengupas dua sampai tiga pohon pisang berukuran besar, lalu membersihkannya dan menggorengnya di wajan dengan minyak panas. Setelah berubah warna menjadi kuning kecoklatan, keripik ditiriskan dan dibiarkan hingga mengeras dan renyah.

Kirom menyebutkan, konsumen utama mereka berasal dari luar kota, karena mereka memasarkan produk melalui platform online, seperti Shopee dan TikTok Shop. Pengiriman terjauh yang pernah dipesan berasal dari Bali dan Kalimantan, selain itu juga dari berbagai kota di Jawa Timur.

Untuk harga, Kirom menyebutkan bahwa keripik gedebok pisang buatannya dijual mulai dari kemasan 5 gram seharga Rp5.000 hingga kemasan 1 kilogram seharga Rp50.000. Menurut Kirom, penilaian konsumen terhadap rasa, harga, dan kemasan produknya baik, bahkan ada yang sudah berlangganan.

Usaha kreatif yang ditekuni oleh pasangan suami istri ini merupakan salah satu contoh usaha rumahan yang dapat dicontoh oleh masyarakat lain untuk menjadi lebih mandiri dan mendukung program pemerintah tentang pengentasan kemiskinan. Namun, Kirom mengakui bahwa selama ini belum mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk pelatihan maupun tambahan modal untuk mengembangkan usahanya.

Meskipun demikian, usaha yang dijalankan oleh Kirom dan suaminya ini telah berhasil membawa nama Bojonegoro ke luar daerah, bahkan hingga luar pulau. Hal ini menunjukkan bahwa dengan kreativitas dan ketekunan, masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar mereka untuk menghasilkan produk bernilai ekonomis tinggi.

Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan perhatian dan dukungan yang lebih besar kepada pelaku usaha kreatif seperti Kirom dan suaminya, agar mereka dapat terus mengembangkan usahanya dan menjadi inspirasi bagi masyarakat lain. Dengan demikian, program pengentasan kemiskinan dapat berjalan lebih efektif dan membawa manfaat bagi masyarakat secara luas.