MALANG, Zona Malang – Kabar gembira bagi umat Muslim di seluruh Indonesia! Pemerintah Republik Indonesia, melalui Kementerian Agama, secara resmi menetapkan Hari Raya Iduladha 1446 Hijriah akan jatuh pada hari Jumat, 6 Juni 2025. Keputusan penting ini diumumkan setelah melalui proses sidang isbat yang dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2025, sebuah mekanisme yang dilakukan untuk menentukan awal bulan Qamariah, termasuk Zulhijah, bulan di mana Iduladha dirayakan. Sidang isbat ini didasarkan pada hasil rukyatul hilal, yaitu pengamatan hilal atau bulan sabit muda, yang dilakukan secara serentak di berbagai wilayah di seluruh penjuru Indonesia. Rukyatul hilal ini menjadi penentu utama dalam kalender Islam, memastikan bahwa penanggalan ibadah dan perayaan penting seperti Iduladha dapat ditetapkan secara akurat dan seragam di seluruh negeri.
Seperti tradisi yang telah mengakar kuat di masyarakat, pelaksanaan salat Iduladha akan dilakukan pada pagi hari. Setelah menunaikan salat Id, umat Muslim akan melanjutkan dengan prosesi penyembelihan hewan kurban, sebuah ritual yang memiliki makna mendalam dalam agama Islam. Iduladha, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban, merupakan momen penting bagi umat Islam yang memiliki kemampuan finansial. Ibadah kurban ini hukumnya sunnah muakkad, yang berarti sangat dianjurkan bagi mereka yang mampu. Kurban bukan hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi juga merupakan simbol pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama. Melalui ibadah kurban, umat Muslim diajak untuk meneladani Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT.
Momen Iduladha bukan sekadar tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang merenungkan dan mensyukuri rezeki yang telah dilimpahkan oleh Allah SWT. Lebih dari sekadar ritual, Iduladha mengajarkan umat Islam untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diterima, baik berupa kesehatan, keluarga, maupun harta benda. Salah satu adab yang sangat dianjurkan ketika menerima daging kurban adalah membaca doa sebagai ungkapan rasa syukur. Hal ini merupakan bentuk penghormatan terhadap Allah SWT atas rezeki yang telah diberikan, serta wujud terima kasih kepada orang yang telah berkurban. Rasulullah SAW sendiri telah memberikan contoh dalam hal ini, mengajarkan umatnya untuk senantiasa bersyukur dalam segala keadaan, termasuk saat menerima nikmat dari orang lain.
Mengutip dari buku “Fiqih Doa dan Dzikir Jilid 2” karya Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Badr, umat Muslim dapat mengamalkan doa berikut ketika menerima daging kurban: “اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي، وَاسْقِ مَنْ سَقَانِي” (Allāhumma ath‘im man ath‘amanī, wasqi man saqānī). Doa ini memiliki arti yang sangat mendalam: “Ya Allah, berilah makan kepada orang yang telah memberi makan kepadaku dan berilah minum kepada orang yang telah memberi minum kepadaku.” Doa ini bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga merupakan wujud rasa terima kasih yang tulus kepada orang yang telah memberikan rezeki kepada kita. Dengan membaca doa ini, kita memohon kepada Allah SWT agar memberikan balasan yang lebih baik kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita.
Selain doa di atas, dari buku “Doa-doa Terbaik” yang ditulis oleh Ahmad Zacky El-Syafa, umat Islam juga dapat membacakan doa berikut ketika memperoleh rezeki dari orang lain: “اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي رَزَقَنِي هَذَا مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنْ وَلَا قُوَّةٍ، اللهُمَّ بارك فِيهِ” (Alhamdu lillahi alladhi razaqani hadha min ghayri hawlin minni wa la quwwatin, Allahumma barik fihi). Doa ini memiliki makna yang sangat indah: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi rezeki ini kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku. Ya Allah, berkahilah rezeki ini.” Doa ini mengandung pengakuan bahwa segala rezeki yang kita terima berasal dari Allah SWT, bukan semata-mata karena usaha dan kerja keras kita. Dengan membaca doa ini, kita memohon kepada Allah SWT agar memberkahi rezeki yang telah kita terima, sehingga dapat bermanfaat bagi diri kita sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Dengan mengamalkan doa-doa tersebut, umat Islam dapat semakin memperkuat keikhlasan dan makna dalam ibadah kurban. Lebih dari sekadar ritual, Iduladha menjadi sarana yang sangat penting untuk berbagi rezeki dan mempererat kepedulian sosial di tengah masyarakat. Melalui ibadah kurban, umat Muslim diajak untuk saling berbagi kebahagiaan dengan sesama, terutama mereka yang kurang mampu. Daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat menjadi simbol kepedulian dan solidaritas, menunjukkan bahwa umat Islam adalah satu kesatuan yang saling membantu dan mendukung. Iduladha menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan rasa persaudaraan dan mempererat tali silaturahmi antar sesama umat Muslim.
“Iduladha adalah momen yang sangat penting bagi umat Muslim. Selain sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT, Iduladha juga menjadi sarana untuk meningkatkan kepedulian sosial dan mempererat tali persaudaraan,” ujar Ustadz Ahmad, seorang tokoh agama di Malang. “Dengan berkurban, kita tidak hanya berbagi rezeki, tetapi juga berbagi kebahagiaan dengan sesama. Semoga Iduladha tahun depan membawa berkah bagi kita semua,” tambahnya. Dengan semangat Iduladha, mari kita tingkatkan keimanan, ketakwaan, dan kepedulian sosial kita, sehingga kita dapat menjadi umat yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat.







