Memasuki babak kedua, alur permainan kembali berubah. Persita tampil lebih agresif, seakan tak ingin mengecewakan pendukungnya yang memadati stadion. Di sisi lain, performa Arema menurun drastis, terutama dari segi akurasi umpan dan konsistensi bertahan.
Situasi ini dimanfaatkan dengan baik oleh tuan rumah. Javlon Guseynov sukses menyamakan kedudukan menjadi 2-2 pada menit ke-64 melalui sundulan terukurnya memanfaatkan skema bola mati. Tujuh menit kemudian, Marios Ogkmpoe membalikkan keadaan sekaligus mencetak gol ketiga Persita setelah memanfaatkan kesalahan koordinasi lini belakang Singo Edan.
Gol tersebut menjadi penentu kemenangan Persita malam itu. Meski sempat mendapat tekanan dari Arema di sisa waktu pertandingan, anak-anak asuh Divaldo Alves berhasil menjaga keunggulan dengan disiplin tinggi. Hingga wasit meniup peluit panjang, skor tak berubah—Persita menang 3-2.
Kemenangan ini menjadi angin segar bagi Persita yang tengah berjuang memperbaiki posisi di klasemen sementara Liga 1. Sementara bagi Arema, hasil ini menjadi tamparan keras sekaligus sinyal bahwa masih banyak yang perlu dibenahi, terutama dalam menjaga konsistensi permainan selama 90 menit.
Dengan hasil ini, Persita membuktikan bahwa semangat juang tak pernah boleh dipandang remeh. Mereka tampil berani, agresif, dan punya daya juang tinggi—sesuatu yang seharusnya jadi contoh bagi klub-klub lain di tengah ketatnya persaingan Liga 1 musim ini.







