Zona Malang – Samsung resmi mengungkap detail teknologi kecerdasan buatan (AI) yang tertanam dalam chipset terbarunya, Exynos 2600. Chip ini dijadwalkan debut bersama seri Galaxy S26 pada Februari 2026, sekaligus menandai tonggak baru dalam pengembangan prosesor mobile dengan fabrikasi 2 nanometer (nm).
Sebagai pionir dalam teknologi 2nm Gate-All-Around (GAA), Exynos 2600 diklaim membawa lonjakan performa dan efisiensi daya yang signifikan. Samsung menyebut chip ini sebagai yang pertama di dunia dalam kategori smartphone yang menggunakan proses fabrikasi tersebut.
Salah satu sorotan utama adalah hadirnya Neural Processing Unit (NPU) generasi baru. Dibandingkan pendahulunya, Exynos 2500, kinerja AI pada chip ini meningkat hingga 113 persen. Peningkatan ini menjadi fokus utama Samsung dalam merancang chipset flagship yang lebih cerdas dan responsif.
Untuk mengoptimalkan kemampuan AI, Samsung menggandeng perusahaan teknologi asal Korea Selatan, NotaAI. Melalui platform NetsPresso, NotaAI membantu memperkecil ukuran model AI tanpa mengorbankan akurasi. Pendekatan ini memungkinkan Exynos 2600 menjalankan model AI berukuran besar langsung di perangkat, tanpa bergantung pada koneksi internet.
Konsekuensinya, fitur-fitur berbasis AI seperti pemrosesan gambar, pengenalan suara, dan asisten cerdas dapat beroperasi secara lokal. Hal ini tidak hanya mempercepat respons, tetapi juga meningkatkan keamanan data pengguna.
Baca Juga: Permintaan TV Jumbo Meningkat, Samsung Dorong Tren Layar 75–115 Inci di Ruang Keluarga
Kemitraan antara Samsung dan NotaAI bukanlah hal baru. Sebelumnya, kolaborasi serupa telah dilakukan pada pengembangan Exynos 2400 dan 2500. Bahkan, keduanya telah melahirkan Exynos AI Studio, sebuah platform bantu untuk pengembangan fitur AI yang lebih efisien dan terintegrasi.
Dari sisi arsitektur, Exynos 2600 mengusung desain CPU 10-core berbasis Arm v9.3. Samsung menghapus core berdaya rendah konvensional dan menggantinya dengan kombinasi core utama dan core menengah berperforma tinggi. Konfigurasinya terdiri dari 1 core C1-Ultra (3,8 GHz), 3 core C1-Pro (3,25 GHz), dan 6 core C1-Pro efisiensi (2,75 GHz).
Arsitektur baru ini diklaim mampu meningkatkan performa CPU hingga 39 persen dibandingkan generasi sebelumnya. Dukungan instruksi ARM SME2 juga memperkuat kemampuan pemrosesan machine learning dan memangkas latensi pada fitur berbasis AI.
Sementara itu, bocoran mengenai Galaxy S26 Plus turut mencuri perhatian. Perangkat ini disebut akan hadir dengan layar 6,9 inci, lebih besar dari pendahulunya yang berukuran 6,7 inci. Ukuran tersebut mendekati varian Galaxy S26 Ultra, sehingga pengalaman visual dan produktivitas pengguna diprediksi semakin mendekati kelas flagship tertinggi.
Bocoran lain menyebutkan bahwa seluruh seri Galaxy S26 akan menggunakan sensor 12MP untuk kamera telefoto. Perubahan ini diperkirakan akan memengaruhi kualitas zoom dan stabilitas gambar.
Menariknya, desain Galaxy S26 sempat muncul dalam pembaruan antarmuka One UI 8.5. Render yang ditemukan menampilkan tiga model: Galaxy S26 dan S26 Plus (kode M1 dan M2), serta Galaxy S26 Ultra (M3). Desainnya konsisten dengan bocoran sebelumnya, termasuk modul kamera berbentuk pulau dan penempatan sensor yang khas.







