MALANG, Zonamalang.com – Kabar kurang sedap kembali menghampiri para perakit PC dan gamer di seluruh dunia. Tren kenaikan harga kartu grafis (GPU) dilaporkan kembali melonjak tajam di pasar global. Lonjakan ini membuat patokan harga eceran resmi atau Manufacturer’s Suggested Retail Price (MSRP) kini semakin tidak relevan untuk dijadikan acuan aktual di pasaran.
Berdasarkan laporan data terbaru dari firma riset TechSpot yang memantau pergerakan harga GPU di 10 negara, rata-rata harga seluruh model kartu grafis telah mengalami kenaikan sekitar 15 persen hanya dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Jika dikomparasikan dengan harga saat peluncuran, harga GPU saat ini rata-rata sudah melambung hingga 28 persen lebih tinggi. Dari tren tersebut, lini NVIDIA GeForce tercatat mengalami lonjakan harga yang jauh lebih signifikan dibandingkan dengan kompetitornya, AMD Radeon.
Anomali Ekstrem NVIDIA RTX 5090
Dalam kalkulasi rata-rata tersebut, analis bahkan harus menyingkirkan GeForce RTX 5090 dari daftar perhitungan karena harganya dianggap sebagai outlier yang sangat ekstrem.
Sebagai informasi, NVIDIA mematok MSRP RTX 5090 di angka US$1.999 (sekitar Rp35.500.000 berdasarkan kurs per 2 September 2026). Namun, realita di lapangan menunjukkan hal yang jauh berbeda. Harga model termurah yang saat ini tersedia di pasar Amerika Serikat dilaporkan sudah menyentuh angka hampir US$5.000 atau setara dengan Rp88.000.000. Ini berarti, flagship terbaru dari NVIDIA tersebut dijual 145 persen lebih mahal dari MSRP di AS, dan membengkak 136 persen lebih tinggi untuk skala global.
Jika anomali RTX 5090 dikeluarkan dari perhitungan, kartu grafis lini GeForce secara keseluruhan tetap mencatatkan kenaikan harga rata-rata sebesar 19 persen secara bulanan. Sementara itu, GPU lini Radeon mengalami kenaikan yang sedikit lebih rendah, yakni di kisaran 11 persen. Fenomena ini sejalan dengan laporan sepanjang Agustus lalu yang telah mengindikasikan lonjakan signifikan pada jajaran RTX 50 Series.
Kapasitas Memori (VRAM) Turut Menentukan Harga
Lonjakan harga di pasaran saat ini ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh kelas produk semata. Salah satu contoh kasus paling mencolok terjadi pada varian RTX 5060 Ti berkapasitas 16GB.
Kartu grafis yang awalnya memiliki MSRP sebesar US$429 ini, kini dipasarkan rata-rata 70 persen lebih mahal di Amerika Serikat dan 53 persen lebih tinggi di pasar global. Menariknya, versi 8GB dari model yang sama justru hanya mengalami kenaikan sekitar 14 persen di atas MSRP global. Perbedaan harga yang timpang ini membuktikan bahwa konfigurasi memori (VRAM) yang lebih besar memberikan tekanan harga yang jauh lebih tinggi di pasaran, terlepas dari faktor logistik dan distribusi antarwilayah.
AMD Radeon Masih Lebih Terkendali
Di kubu tim merah, AMD memang tidak sepenuhnya kebal terhadap badai kenaikan harga ini. Tercatat, Radeon RX 9060 XT 16GB kini dijual sekitar 28 persen lebih mahal dari MSRP globalnya. Meski demikian, varian kelas atas seperti Radeon RX 9070 masih relatif aman dengan kenaikan harga yang terjaga di kisaran 13 persen dari harga peluncurannya.
Lantas, apa yang memicu fenomena inflasi GPU ini? Sejumlah analis pasar mengaitkan krisis harga terbaru ini dengan pergeseran alur pasokan memori GDDR7. Tingginya permintaan perangkat keras untuk kebutuhan pengembangan Artificial Intelligence (AI) membuat pasokan GDDR7 banyak dialihkan ke sektor tersebut.
Kondisi ini sangat memukul lini RTX 50 Series dari NVIDIA yang seluruhnya sudah mengadopsi GDDR7. Sebaliknya, sebagian besar kartu grafis Radeon generasi terbaru dari AMD masih mempertahankan penggunaan memori GDDR6. Strategi arsitektur inilah yang diyakini membantu AMD menahan tekanan lonjakan harga komponen untuk sementara waktu.
Kendati demikian, bukan tidak mungkin lini Radeon akan ikut terseret arus kenaikan harga yang lebih ekstrem jika krisis pasokan memori global ini terus berlanjut di kuartal mendatang.







