Zona Malang – Belakangan ini, istilah “Sengkuni” menjadi viral di platform TikTok, namun banyak yang belum mengetahui bahwa Sengkuni sebenarnya adalah salah satu tokoh dalam pewayangan Mahabarata.
Dalam pewayangan, Sengkuni dikenal sebagai sosok yang licik, suka mengadu domba, dan haus akan kekuasaan. Karakteristik ini menjadi cikal bakal perang saudara antara Pandawa dan Kurawa yang dikenal dengan Bharatayuda.
Kehidupan masa lalu Sengkuni juga menjadi bagian dari cerita yang pelik. Bersama kedua orang tua dan 100 saudaranya, Sengkuni mengalami penderitaan karena dipenajakan oleh Destarata, suami dari Dewi Gandari yang merupakan kakak kandungnya.
Mereka hanya diberikan sebutir nasi untuk makan setiap harinya, dan dalam kondisi bertahan hidup, Sengkuni terpaksa memakan orangtuanya dan saudaranya sendiri.
Istilah “Sengkuni” yang kini viral di TikTok berkaitan dengan situasi politik di Tanah Air. Dalam konteks politik, Sengkuni menjadi analogi bagi figur atau tindakan yang gemar menebar fitnah, mengadu domba, dan menimbulkan perpecahan, mirip dengan karakternya dalam Mahabarata.
Karakter Sengkuni dianggap relevan dalam menyikapi kontestasi politik di Indonesia, di mana upaya untuk memecah belah bangsa melalui adu domba dan penyebaran berita bohong semakin meresahkan. Beberapa tokoh dan komentator bahkan menyebut bahwa “perang baratayudha” dibutuhkan untuk melawan politik adu domba dan menjaga persatuan bangsa.
Selain istilah “Sengkuni,” istilah “omon-omon” juga menjadi perbincangan setelah diucapkan oleh Capres nomor urut 2, Prabowo Subianto, dalam debat Capres kedua. Istilah ini diartikan sebagai cuap-cuap atau omong kosong yang berlandaskan pada teori saja.
Dengan demikian, istilah “Sengkuni” dan “omon-omon” mencerminkan kegelisahan terhadap dinamika politik yang dianggap merugikan persatuan dan menyuarakan kebutuhan untuk menghadapi tantangan tersebut.***







