Musisi Matoha Mino Rilis Lagu “Gunung Kawi”, Luruskan Stigma Mistis

Matoha Mino rilis lagu “Gunung Kawi” pada 31 Desember 2025, angkat sisi ziarah dan budaya, bukan pesugihan.

Zona Malang – Nama Gunung Kawi kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis, angker, hingga pesugihan. Stereotip yang terus berkembang di masyarakat ini akhirnya dijawab oleh seorang musisi asal Gunung Kawi, Matoha Mino. Seniman berusia 57 tahun itu merilis lagu berjudul “Gunung Kawi” sebagai upaya meluruskan stigma yang melekat pada kawasan di Kabupaten Malang tersebut.

“Ide lagu ini sudah ada sejak 2005–2008, ketika sering mendengar orang bilang Gunung Kawi itu tempat pesugihan, tempat tuyul dan genderuwo. Padahal saya lahir dan besar di sana, tepatnya Desa Wonosari. Rasanya tidak adil kalau stereotip itu terus dipelihara film horor dan sinetron,” ungkap Matoha.

Lewat liriknya, ia menegaskan bahwa Gunung Kawi adalah tempat ziarah para pahlawan, yakni Eyang Djoego dan Eyang Soejono (RM Iman Soedjono), laskar Pangeran Diponegoro saat melawan Belanda. “Gunung Kawi bukan tempat pesugihan. Ini tempat berdoa, tempat wisata ritual yang bahkan dikunjungi tamu mancanegara,” tegasnya.

Dalam proses kreatif, Matoha kembali memasukkan unsur gamelan Jawa yang dikombinasikan dengan musik Islami melalui iringan terbangan (sholawatan). Penulisan lirik memakan waktu dua minggu bersama almarhum musisi Irwan Sumadi. Lagu ini kemudian digarap bersama grup musik Islami Tajidor “Kyai Zakaria”, dengan dukungan gamelan, drum, viola, keyboard, dan perkusi.

Keluarga Matoha turut berperan besar. Putranya, Hanafi Madu W., ikut memainkan instrumen; sang istri, Dwi Siswa, mengoordinasi paduan suara anak-anak sekitar; sementara putrinya, Madukina, membantu mengarahkan vokal, busana, sampul single, hingga strategi perilisan digital.

Berbeda dengan karya sebelumnya seperti “Dhat” yang menggunakan bahasa Jawa dan Sansekerta, kali ini Matoha memilih bahasa Indonesia agar lebih mudah dipahami. “Tujuan saya meluruskan stigma, jadi bahasa universal penting. Liriknya sederhana agar tidak menimbulkan salah paham dan bisa dinyanyikan bersama-sama,” jelasnya.

Single “Gunung Kawi” resmi dirilis secara digital pada 31 Desember 2025 di berbagai layanan streaming. Matoha berharap karya ini dapat memperluas pemahaman masyarakat tentang Gunung Kawi, bukan sebagai tempat mistis, melainkan sebagai ruang ziarah, doa, dan budaya.