Zona Malang – Ini informasi tentang kalender Jawa bulan September 2023 lengkap beserta pasaran jawa yang perlu diketahui.
Indonesia, negara kepulauan yang kaya dan beragam, memiliki warisan budaya yang tak terhitung jumlahnya. Salah satunya adalah Kalender Jawa, sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram dan berbagai kerajaan pecahannya.
Sejarah Singkat Kalender Jawa
Kalender Jawa pertama kali diterbitkan oleh mPu Hubayun pada tahun 911 SM. Namun, dalam perjalanannya mengalami perubahan, seperti yang dilakukan oleh Prabu Sri Mahapunggung I (Ki Ajar Padang I) pada tahun 50 SM. Beliau mengubah beberapa huruf aksara dan sastra Jawa, memberikan karakter dan warna tersendiri kepada sistem penanggalan ini.
Siklus Hari dalam Kalender Jawa
Yang unik dari Kalender Jawa adalah sistem siklus hari yang digunakannya. Dalam kalender ini, ada dua siklus hari, yang pertama adalah berbasis ‘siklus mingguan’ yang terdiri dari 7 hari (Ahad sampai Sabtu), seperti kalender Gregorian yang sering kita gunakan. Namun, ada juga siklus ‘pekan pancawara’ yang terdiri dari 5 hari pasaran, yaitu hari Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing.
Perpaduan Budaya dalam Kalender Jawa
Budaya memiliki pengaruh besar dalam pembentukan Kalender Jawa. Ada tiga budaya yang menginspirasinya, yaitu Islam, Hindu, dan Julian dari budaya Barat. Hal ini mencerminkan keragaman dan keberagaman budaya Indonesia, dan bagaimana Indonesia mampu menggabungkan pengaruh dari banyak sumber berbeda dalam bentuk yang unik dan khas.
Berikut informasi Kalender Jawa pada bulan September 2023:
| Tanggal | Hari | Pasaran |
|---|---|---|
| 22 September 2023 | Jumat | Legi |
| 23 September 2023 | Sabtu | Pahing |
| 24 September 2023 | Minggu | Pon |
| 25 September 2023 | Senin | Wage |
| 26 September 2023 | Selasa | Kliwon |
| 27 September 2023 | Rabu | Legi |
| 28 September 2023 | Kamis | Pahing |
| 29 September 2023 | Jumat | Pon |
| 30 September 2023 | Sabtu | Wage |
Sebelum masa pemerintahan Sultan Agung, masyarakat Mataram Islam menggunakan kalender Saka yang datang dari India. Kalender Saka didasarkan pada pergerakan matahari, sedangkan kalender Hijriyah yang didasarkan pada pergerakan bulan. Kalender Jawa menjadi hasil perpaduan dari dua sistem penanggalan ini.
Perbedaan dengan Kalender Hijriyah
Meskipun pada dasarnya Kalender Jawa mengikuti sistem Kalender Hijriyah, tetapi ada perbedaan unik. Dalam Kalender Jawa, setiap 1 windu (8 tahun) ada 3 tahun kabisat, sedangkan kalender Islam memiliki 11 tahun kabisat setiap 30 tahun.
Kalender Jawa dan Kehidupan Masyarakat Saat Ini
Meski zaman telah berkembang, Kalender Jawa tetap memiliki keistimewaan yang tetap dipertahankan oleh masyarakat Indonesia, khususnya bagi masyarakat Jawa. Kalender ini masih banyak digunakan dalam berbagai acara budaya dan keagamaan, misalnya dalam penentuan hari baik untuk pernikahan atau upacara adat lainnya.
Penutup
Mengampu warisan budaya seperti Kalender Jawa adalah cara kita menjaga dan menghargai sejarah dan keunikan bangsa. Kalender Jawa bukan hanya sistem penanggalan, tetapi juga simbol dari perpaduan budaya dan sejarah yang kaya dan beragam, sama seperti Indonesia itu sendiri. Mari kita terus menjaganya.***







