Tradisi Suronan di Pesantren Jawa: Menyambut Hari Asyura 10 Muharram

Zona Malang – Pesantren-pesantren di Jawa memiliki tradisi unik yang disebut Suronan untuk menyambut hari ke-10 bulan Muharram, yang dikenal sebagai hari Asyura. Tradisi ini memadukan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal Jawa, menciptakan perayaan yang kaya makna dan sejarah.

Sejarah dan Makna Hari Asyura

Hari Asyura memiliki arti penting dalam sejarah Islam. Berbagai peristiwa bersejarah diyakini terjadi pada hari ini, di antaranya:

  1. Allah SWT mengampuni dosa Nabi Adam AS
  2. Nabi Nuh AS dan pengikutnya diselamatkan dengan kapal
  3. Nabi Musa AS dan kaumnya diselamatkan dari kejaran Firaun
  4. Nabi Yunus AS diselamatkan dari perut ikan paus
  5. Peristiwa Karbala dan syahidnya Imam Husain, cucu Nabi Muhammad SAW

Dalam tradisi Jawa, Asyura dikenal sebagai Suro, bulan pertama dalam kalender Jawa yang dianggap sakral dan dipenuhi kegiatan spiritual. Tradisi Suronan di pesantren Jawa berakar dari zaman Wali Songo, para penyebar Islam di tanah Jawa yang berhasil memadukan ajaran Islam dengan budaya setempat.

Kegiatan dalam Tradisi Suronan

  1. Puasa Asyura

Mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW, santri di pesantren menjalankan puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Puasa tanggal 9 Muharram disebut puasa Tasua, sementara puasa tanggal 10 Muharram adalah puasa Asyura. Nabi Muhammad SAW menganjurkan puasa ini sebagai rasa syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dari kejaran Firaun.

  1. Membuat dan Berbagi Bubur Asyura

Pesantren-pesantren biasanya membuat bubur Asyura, yang terdiri dari dua jenis:

  • Bubur abang (merah): bubur manis yang diberi gula merah
  • Bubur putih: bubur gurih

Warna merah dan putih pada bubur ini melambangkan dualisme dalam kehidupan, seperti baik-buruk, siang-malam, atau laki-laki-perempuan. Simbolisme ini sejalan dengan kepercayaan masyarakat Jawa bahwa bulan Suro adalah masa peperangan antara kebaik dan keburukan.

  1. Kegiatan Keagamaan

Pesantren mengadakan berbagai kegiatan keagamaan untuk memperkuat iman dan ketakwaan santri serta masyarakat sekitar, seperti:

  • Zikir dan salawat bersama
  • Tahlil dan doa bersama untuk mendoakan leluhur, ulama, dan seluruh umat Islam
  • Pengajian akbar dengan mengundang ulama atau kiai terkenal
  1. Kegiatan Sosial

Sebagai bentuk amal dan sedekah, pesantren sering mengadakan:

  • Santunan anak yatim dan fakir miskin
  • Pembagian makanan (bubur Asyura, nasi tumpeng, kue tradisional) kepada masyarakat sekitar

Jadwal 10 Muharram 2024

Terdapat perbedaan penetapan tanggal 10 Muharram 1446 Hijriah antara beberapa organisasi Islam di Indonesia:

Nahdlatul Ulama (NU):

  • Puasa Tasua: Selasa, 16 Juli 2024
  • Puasa Asyura: Rabu, 17 Juli 2024

Pemerintah dan Muhammadiyah:

  • Puasa Tasua: Senin, 15 Juli 2024
  • Puasa Asyura: Selasa, 16 Juli 2024

Perbedaan ini terjadi karena metode penentuan awal bulan yang berbeda. Namun, esensi dari perayaan Suronan tetap sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berbagi kebaikan dengan sesama.

Kesimpulan

Tradisi Suronan di pesantren Jawa merupakan contoh harmonis perpaduan antara ajaran Islam dan kearifan lokal. Melalui berbagai kegiatan spiritual dan sosial, tradisi ini tidak hanya memperkuat iman dan ketakwaan para santri, tetapi juga mempererat hubungan dengan masyarakat sekitar. Di tengah arus modernisasi, tradisi seperti ini menjadi penting untuk dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya dan spiritual bangsa Indonesia.​​​​​​​​​​​​​​​​