Zona Malang – Kongres Ke-13 Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) resmi dibuka di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, pada 21-22 Desember 2024. Acara ini menarik perhatian karena mengusung tema yang relevan dengan tantangan zaman, yaitu “Kembali ke Khittah JATMAN dalam Membimbing Umat dan Memperkokoh Akhlak Mulia sebagai Landasan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Menuju Indonesia Maju.”
Dalam sambutannya, Ketua Organizing Committee (OC), Prof. Ali Masykur Musa, menegaskan pentingnya tema ini sebagai cerminan komitmen JATMAN untuk memperkuat fungsi dan peran sentral organisasi dalam membimbing umat di tengah gelombang modernitas yang dapat mengikis nilai-nilai spiritual. “Kongres ini adalah momentum untuk merumuskan langkah-langkah strategis demi memberikan fondasi akhlak yang kuat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa JATMAN bertekad untuk berkontribusi dalam membangun Indonesia yang lebih maju, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai luhur yang menjadi akar budaya dan spiritual bangsa. Hal ini menjadi sangat penting di saat masyarakat dihadapkan pada berbagai tantangan, baik sosial maupun moral.
Pada kongres ini, para peserta diharapkan dapat mendiskusikan isu-isu strategis melalui satuan komisi yang membahas berbagai aspek, seperti organisasi, program kerja, dan rekomendasi yang bisa diterapkan untuk meningkatkan kualitas akhlak di masyarakat. Isu tersebut sangat relevan, mengingat adanya tantangan dalam mempertahankan nilai-nilai tradisional di era globalisasi saat ini.
Agenda penting lainnya yang menjadi sorotan adalah pemilihan pimpinan tertinggi Idaroh Aliyah JATMAN. Proses pemilihan ini akan difasilitasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), sebuah langkah yang menunjukkan kolaborasi dan dukungan antar organisasi dalam memperkuat posisi JATMAN di kancah nasional.
Dengan harapan yang besar, kongres ini diadakan untuk memperkuat peran JATMAN sebagai wadah bagi para pengamal thariqah dalam membimbing umat menuju kehidupan yang lebih berkualitas secara spiritual, sekaligus menjadi pilar dalam pembangunan bangsa yang berlandaskan akhlak mulia. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan kebijakan yang tepat untuk memperkuat jati diri umat, sekaligus memperkokoh rasa persatuan dalam keberagaman.







