Zona Malang – Puluhan tahun sebelum kemerdekaan diproklamasikan, Batavia menjadi saksi sejarah penting bagi perjalanan Nahdlatul Ulama (NU). Tepatnya pada 6–11 Mei 1933, organisasi Islam terbesar di Indonesia itu menggelar Muktamar ke-VIII di sebuah lokasi yang kini luput dari sorotan publik—namun menyimpan kisah penuh makna dan kejayaan.
Di tengah dinamika zaman kolonial, siapa sangka NU kala itu mampu menyelenggarakan forum akbar di sebuah gedung megah, tanpa mengeluarkan biaya sewa sepeser pun. Lokasinya adalah gedung yang kini dikenal sebagai Museum Tekstil Jakarta, terletak di Jalan KS. Tubun, Palmerah, Jakarta Barat, tak jauh dari Pasar Tanah Abang yang kini ramai oleh hiruk pikuk niaga.
Penelusuran sejarah menunjukkan bahwa gedung ini dibangun oleh seorang warga Prancis bernama Justinus Vinck, lalu berpindah tangan kepada Konsul Turki, Abdul Aziz Al-Mussawi Al-Katiri. Belakangan, gedung tersebut dibeli oleh Sayid Abdullah bin Alwi Al-Athas, saudagar kaya dan dermawan dari keturunan Hadrami. Sepeninggalnya, rumah besar itu diwariskan kepada putranya, Sayid Ismail bin Abdullah bin Alwi Al-Athas—sosok yang membuka pintu lebar-lebar untuk pelaksanaan Muktamar NU, tanpa memungut biaya.
Tak berlebihan bila redaksi Swara Nahdlatoel Oelama (SNO), media resmi NU saat itu, menyebut bahwa:
“Nahdlah bertempat kongres di situ tidak dengan sewa setengah sen pun. Hanya dari kedermawanannya yang mulia tuan rumah tahadi. Padahal, umpama Nahdlah menyewa sampai lebih dari empat ratus rupiah, maka masih berasa murah.”
Sebagai catatan, ketika NU menggelar Muktamar di Hotel Muslimin Surabaya, biayanya mencapai 189 rupiah. Bahkan Muktamar keempat di Semarang diselenggarakan di Hotel Arabistan dengan tarif sewa 150 rupiah. Maka, wajar jika lokasi di Batavia kala itu dianggap mewah dan bernilai tinggi, apalagi mampu menampung 162 utusan cabang NU dan 373 tamu undangan, sebagaimana tercatat dalam daftar hadir resmi.
Deskripsi tentang kemegahan tempat itu pun sangat gamblang dituliskan oleh redaksi SNO:
“…itu rumah tidak main-main besarnya dan eloknya, bermarmer yang muka dan bertegel yang belakang… tanah lapang berhias dengan beberapa tanaman bunga-bunga yang menyenangkan hati publik.”
Bayangkan, rumah utama sepanjang 60 meter dengan lebar 35 meter, ditambah paviliun di sisi kiri sepanjang 75 meter dan lebar 8 meter. Halaman depannya sendiri terbentang seluas 55 x 65 meter—cukup untuk menampung ratusan orang dengan nyaman.
Penulis sendiri sempat berkunjung ke Museum Tekstil beberapa waktu lalu. Gedung itu masih berdiri anggun, dengan struktur yang sebagian besar tak berubah. Marmer, tegel, dan tata ruangnya masih menyisakan aroma kemegahan masa lalu. Tak heran jika redaktur SNO yang saat itu dipimpin KH Dachlan Abdul Qahar menaruh kekaguman mendalam.
Namun, lebih dari sekadar tempat, Muktamar VIII NU ini menjadi simbol penting relasi historis antara NU dan kalangan habaib. Sejak awal berdiri, NU bukan sekadar organisasi kultural, tapi juga spiritual. Keterlibatan kalangan habaib dalam pelaksanaan Muktamar ini memperlihatkan betapa eratnya jejaring sosial dan keagamaan yang dibangun.
Beberapa nama habaib yang hadir sebagai utusan cabang NU antara lain Sayid Muhammad Al-Magribi (Bangil), Sayid Alwi bin Muhammad Bafaqih (Kudus), dan Sayid Umar bin Ali bin Yahya (Menes, Banten). Dari Batavia sendiri, tercatat nama-nama seperti Sayid Abu Bakar al-Habsy, Sayid Idrus Al-Habsy, dan Sayid Ahmad Ats-Tsaqaf.
Ada pula tokoh-tokoh habaib yang hadir bukan sebagai utusan resmi, namun menunjukkan solidaritas kuat terhadap NU: Sayid Abdullah bin Yahya (Surabaya), Sayid Muhammad bin Ali bin Yahya (Bogor), serta Sayid Ali Al-Habsyi dari Kwitang, Batavia. Nama terakhir ini adalah figur sentral dalam sejarah kedekatan habaib dan NU.
Lebih dari Sekadar Sejarah
Jejak Muktamar VIII NU di Batavia adalah lebih dari sekadar catatan masa lalu. Ia adalah potret tentang kemurahan hati, jejaring sosial yang kuat, dan tekad organisasi dalam memperjuangkan Islam yang moderat dan membumi. Dalam momen itu, NU tidak hanya menyampaikan gagasan keumatan, tetapi juga memperlihatkan bahwa kekuatan kolaborasi lintas tokoh dan golongan adalah kunci utama keberlanjutan perjuangan.
Kini, ketika kita menyusuri lorong-lorong Museum Tekstil Jakarta, mungkin tak banyak yang tahu bahwa gedung itu pernah menjadi pusat denyut intelektual dan spiritual umat Islam Indonesia. Ia tak sekadar menyimpan kain dan motif tenun, tapi juga saksi bisu tentang persatuan, visi keagamaan, dan napas kebangsaan yang terus hidup hingga hari ini.
Mungkin sudah saatnya, jejak ini ditandai, dikenang, dan dihidupkan kembali dalam narasi publik—agar generasi muda tak kehilangan akar dan semangat dari sebuah perjalanan besar bernama Nahdlatul Ulama.
Disadur dari status Facebook Ayung Notonegoro, diakses Rabu 14 Mei 2025.







