Zona Malang – Tragedi ambruknya musala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, saat para santri tengah salat Ashar berjamaah pada Senin (29/9) lalu, telah menyorot perhatian nasional pada lembaga pendidikan Islam bersejarah ini. Lebih dari sekadar lokasi bencana, Ponpes Al-Khoziny adalah salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Jawa Timur yang telah berdiri lebih dari satu abad.
Tragedi ambruknya bangunan musala empat lantai tersebut terjadi saat para santri menunaikan sholat Asar. Berdasarkan informasi yang dihimpun, pihak pesantren tengah melakukan penambahan cor di bagian atap untuk memperluas area ibadah, yang diduga menjadi penyebab utama kegagalan struktur bangunan hingga tidak mampu menahan beban.
Didirikan secara resmi pada tahun 1927, jejak pendidikan di Ponpes Al-Khoziny sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1920. Nama Al-Khoziny diambil dari nama seorang tokoh ulama berpengaruh di Sidoarjo pada masanya, yaitu KH Raden Khozin Khoiruddi. Karena lokasinya, masyarakat sekitar juga sering menyebutnya sebagai Pesantren Buduran.
Dalam catatan sejarahnya, pesantren ini memiliki kaitan erat dengan tokoh-tokoh besar pendiri Nahdlatul Ulama (NU), seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Abd Wahab Hasbullah, yang menunjukkan posisi sentralnya dalam jaringan keulamaan di Jawa. Awalnya, Al-Khoziny merupakan pesantren salaf murni yang berfokus pada pengajaran kitab-kitab kuning klasik.
Seiring berjalannya waktu, Ponpes Al-Khoziny mulai beradaptasi dengan tuntutan zaman tanpa meninggalkan tradisi salafnya.
Pada tahun 1964, pesantren ini mulai mengembangkan pendidikan formal dengan mendirikan Madrasah Tsanawiyah, yang kemudian disusul oleh Madrasah Aliyah dan Ibtidaiyah. Puncaknya adalah pendirian lembaga pendidikan tinggi yang kini telah berkembang menjadi Institut Agama Islam (IAI) Al Khoziny.
Tragedi yang menimpa Ponpes Al-Khoziny terasa begitu memilukan karena lembaga ini memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat.
Sampai berita ini ditulis, update jumlah korban pada Rabu (1/10/2025) pukul 21.00 WIB, korban reruntuhan mushala Ponpes Al Khoziny tercatat sedikitnya 108 orang, 18 di antaranya selamat usai dievakuasi petugas, sedangkan lima orang dinyatakan meninggal dunia.
Selama lebih dari satu abad, Al-Khoziny bukan hanya sekadar tempat menimba ilmu, tetapi telah menjadi benteng pelestarian tradisi Islam klasik sekaligus pusat pengembangan intelektual modern di Jawa Timur.
Bagi warga Sidoarjo dan sekitarnya, pesantren ini adalah warisan budaya hidup yang telah melahirkan ribuan ulama dan tokoh masyarakat, menjadikannya pilar penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan di wilayah tersebut.







