Puthu Lanang, sebuah nama yang telah melegenda di Kota Malang sejak tahun 1935, terus menjadi daya tarik bagi pengunjung yang mencari jajanan tradisional yang lezat dan berkelas. Dengan sejarah panjangnya, tempat ini tak pernah sepi dari pembeli, bahkan menarik perhatian sejumlah pejabat penting dan artis, termasuk mantan Presiden Soeharto dan Megawati Soekarnoputri.
Pemilik Puthu Lanang, Siswoyo, menceritakan bahwa usaha ini awalnya dirintis oleh orangtuanya, Supiah dan Abdul Jalal. Dia sendiri mengambil alih bisnis ini pada tahun 2000-an setelah sekian lama membantu orangtuanya sambil menjalani kegiatan sekolahnya. Meskipun awalnya tertantang untuk membuktikan konsistensi rasa dan kualitas Puthu Lanang di tangan generasi kedua, Siswoyo merasa bertekad untuk mempertahankan warisan dan amanat yang diberikan orangtuanya.
“Kami menjual apa yang kami percaya, dan kami beli apa yang kami percaya. Kami tidak hanya menjual untuk mendapatkan keuntungan semata, tetapi juga untuk menjaga nama baik keluarga kami,” ungkapnya.
Siswoyo bahkan menolak banyak tawaran untuk membuka cabang di daerah lain, termasuk tawaran dari Jakarta dan Surabaya. Meskipun banyak tawaran tersebut menjanjikan keuntungan besar, Siswoyo lebih memilih untuk tetap berada di Malang dan mempertahankan kualitas produknya.
Puthu Lanang tidak hanya dikenal dengan puthunya saja, tetapi juga menyediakan berbagai jajanan tradisional lainnya seperti klepon, cenil, dan lupis. Setiap porsi dihargai sebesar Rp 15 ribu dan tempatnya berada di depan sebuah gang kecil di Jalan Jaksa Agung Suprapto. Meski hanya menggunakan lapak meja panjang, tempat ini tetap ramai dengan pengunjung yang ingin menikmati jajanan khas Malang.
Dibuka mulai pukul 17.30 WIB hingga 21.00 WIB, Puthu Lanang sering kali habis terjual sebelum waktu tutup karena antusiasme pengunjung yang tinggi. Dalam sehari, mereka mampu menjual 600 hingga 700 porsi kue, menggunakan sekitar 100 buah kelapa dan 40 hingga 50 kg tepung untuk memenuhi permintaan tersebut.
Kisah sukses Puthu Lanang sebagai jajanan legendaris di Kota Malang tidak hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang warisan budaya dan kepercayaan yang telah dijunjung tinggi selama bertahun-tahun. Dengan komitmen untuk menjaga kualitas dan integritas, tempat ini terus menjadi destinasi favorit bagi pecinta kuliner tradisional di Kota Malang.







