Jamaah Haji Termuda 2026 Asal Malang AsIni Kerjakan Ujian Sekolah di Madinah

Kisah inspiratif Aysylla Naila Sari, siswi kelas 9 yang menyelesaikan ujian kelulusan secara daring dari Madinah sambil menunaikan ibadah haji. Perjuangan luar biasa!

Zonamalang.com – Dilema besar menghampiri seorang remaja putri asal Kabupaten Malang ketika harus memilih antara menunaikan rukun Islam kelima Haji atau mengikuti ujian kelulusan sekolah. Aysylla Naila Sari, gadis berusia 15 tahun itu, menghadapi situasi yang tidak mudah saat jadwal keberangkatan hajinya bertepatan dengan periode ujian akhir.

Kekhawatiran utama Ays—sapaan akrabnya—bukan soal kesiapan fisik atau mental untuk berhaji. Yang membuatnya gelisah adalah bagaimana cara mengikuti ujian sekolah dari jarak ribuan kilometer, dengan perbedaan zona waktu yang signifikan antara Indonesia dan Arab Saudi.

Solusi Ujian Daring dari Tanah Suci

Keberuntungan berpihak pada siswi MTsN 1 Kota Malang ini. Pihak sekolah memberikan dispensasi khusus agar ia bisa mengikuti ujian secara daring langsung dari Madinah. Keputusan ini menjadi jalan keluar terbaik mengingat jadwal ujian susulan di tanah air baru tersedia pada 6 Juni, sementara acara wisuda sudah dijadwalkan tiga hari kemudian.

“Kalau menunggu ujian susulan di Indonesia, saya pasti tidak bisa ikut wisuda karena waktunya terlalu mepet,” ungkap Ays saat diwawancarai tim Media Center Haji di kawasan Syishah, Makkah.

Kini, remaja yang berasal dari keluarga nelayan di pesisir Tambakrejo tersebut telah menyelesaikan masa tinggalnya di Madinah selama tujuh hari. Periode yang penuh tantangan itu berhasil ia lalui dengan wajah penuh kelegaan.

Berjuang di Bawah Kemegahan Masjid Nabawi

Pengalaman spiritual Ays di kota Nabi Muhammad SAW menjadi momen yang tak terlupakan. Di tengah kesibukan beribadah di Masjid Nabawi, ia harus membagi konsentrasi untuk menyelesaikan soal-soal ujian melalui layar ponsel.

Perjuangan putri bungsu dari keluarga nelayan ini menjadi bukti nyata bagaimana seorang remaja berusaha keras menyeimbangkan kewajiban duniawi dan ukhrawi. Madinah menyaksikan bagaimana gadis muda ini berjuang demi masa depan pendidikannya tanpa meninggalkan ibadah.

Saat tim Media Center Haji menemuinya di Hotel Marjan Al Salam, Sektor 1 Syishah, Ays tengah beristirahat setelah menuntaskan rangkaian ujian yang melelahkan. Hotel yang menjadi tempat tinggalnya di tanah haram ini memberikan kenyamanan setelah lima hari penuh ia fokus membagi waktu antara ibadah dan ujian.

Drama Perjalanan yang Menguji Mental

Perjalanan ibadah Ays pada musim haji 1446 H ini diwarnai kejadian tak terduga. Sebagai bagian dari Kloter 16 Embarkasi Surabaya, ia mengalami ketegangan saat pesawat Saudi Arabian Airlines SV-5323 harus melakukan pendaratan darurat di Bandara Kualanamu, Medan.

Insiden teknis tersebut berdampak pada berkurangnya waktu tinggal di Madinah. Yang seharusnya sembilan hari, terpangkas menjadi hanya tujuh hari. Kondisi ini justru membuatnya harus lebih ketat mengatur waktu dan meningkatkan kedisiplinan.

Di kamar hotel Madinah, Ays duduk menghadapi aplikasi Computer Based Test dengan penuh konsentrasi. Baginya, tidak ada pilihan lain. Menunda ujian sama dengan kehilangan kesempatan menghadiri wisuda bersama teman-teman seangkatannya pada 9 Juni mendatang.

Buah Kesabaran 14 Tahun Menunggu

Perjalanan spiritual Ays sebenarnya dimulai sejak ia masih balita. Tahun 2012 silam, sang ayah yang berprofesi sebagai nelayan telah mendaftarkannya untuk menunaikan ibadah haji. Saat itu, Ays baru berusia 1 tahun 8 bulan dan belum memahami makna pendaftaran tersebut.

Kedua orang tua Ays telah lebih dahulu menunaikan ibadah haji pada 2006. Mereka memiliki keinginan kuat agar anak-anaknya bisa berangkat di usia muda, saat kondisi fisik masih prima dan kuat.

“Orang tua saya ingin kami semua bisa berhaji saat masih muda dan sehat,” kenang gadis yang kini telah menjadi hajjah muda tersebut.

Kerja keras sang ayah yang menggantungkan hidup dari hasil melaut di perairan Malang Selatan kini membuahkan hasil manis. Putri bungsunya berhasil berdiri tegak di tanah suci sebagai hajjah muda yang cerdas dan tangguh.

Persiapan Menuju Puncak Haji

Setelah melewati “ujian ganda” di Madinah—baik ujian akademis maupun ujian kesabaran menghadapi kendala perjalanan—Ays kini mempersiapkan diri untuk rangkaian ibadah puncak haji. Dari Hotel Marjan Al Salam yang berlokasi strategis di wilayah Syishah, ia mulai memfokuskan diri untuk menjalani ritual Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Kisah inspiratif remaja asal pesisir Tambakrejo ini membuktikan bahwa dengan tekad kuat dan dukungan keluarga, tidak ada yang mustahil. Ia berhasil membuktikan bahwa ibadah dan pendidikan bisa berjalan beriringan, asalkan ada kemauan dan usaha maksimal.