MALANG, Zona Malang – Dalam beberapa pekan terakhir, demonstrasi penolakan terhadap Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) telah menjadi sorotan publik. Namun, pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menyoroti adanya indikasi bahwa gerakan ini tidak sekadar aksi spontan masyarakat, melainkan ada upaya kelompok tertentu untuk memanfaatkan momentum tersebut.
Menurut Amir Hamzah, aksi demo yang terjadi menunjukkan pola yang sistematis dan terstruktur, mengindikasikan keterlibatan kelompok yang memiliki agenda terselubung. “Kita melihat ada pola gerakan yang tidak biasa, bukan sekadar aspirasi masyarakat, tetapi ada upaya untuk mendelegitimasi TNI sebagai institusi negara. Ini adalah salah satu strategi yang pernah digunakan kelompok Komunis di masa lalu,” ujar Amir Hamzah kepada Radar Aktual, Rabu (2/4/2025).
Amir menjelaskan bahwa metode infiltrasi kelompok Komunis Gaya Baru dalam aksi-aksi sosial sudah lama menjadi strategi mereka dalam melemahkan struktur negara. Propaganda anti-militerisme yang gencar digaungkan dalam berbagai media sosial dan forum diskusi merupakan bagian dari agenda tersebut.
Selain itu, Amir juga menekankan bahwa gerakan semacam ini perlu diwaspadai oleh aparat keamanan dan masyarakat. Pihak intelijen harus bergerak cepat dalam mengidentifikasi aktor-aktor di balik gerakan tersebut agar tidak berkembang menjadi ancaman yang lebih besar.
“Bukan berarti kita mengabaikan aspirasi masyarakat yang sah dalam sistem demokrasi, tetapi kita harus bisa membedakan mana aksi yang murni menyuarakan kepentingan rakyat dan mana yang merupakan operasi terselubung untuk melemahkan negara,” tegasnya.
Menanggapi hal ini, berbagai pihak menyerukan agar masyarakat lebih kritis dalam menanggapi informasi yang beredar dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang berpotensi memecah belah bangsa. Di sisi lain, aparat keamanan diharapkan tetap menjaga keseimbangan antara penegakan hukum dan penghormatan terhadap hak-hak sipil dalam menghadapi situasi ini.
Demonstrasi menolak UU TNI sendiri telah berlangsung di beberapa kota besar, dengan berbagai tuntutan terkait peran militer dalam kehidupan sipil. Namun, dengan adanya dugaan penyusupan dari kelompok tertentu, kini polemik mengenai gerakan ini semakin berkembang dan menjadi perhatian publik.
Amir Hamzah menegaskan bahwa pemerintah serta institusi keamanan diharapkan dapat merespons isu ini dengan langkah-langkah strategis guna menjaga stabilitas nasional sekaligus memastikan bahwa demokrasi tetap berjalan dengan sehat dan sesuai dengan konstitusi.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk lebih waspada dan kritis dalam menyikapi informasi yang beredar terkait gerakan penolakan UU TNI ini. Dengan saling bahu-membahu, diharapkan situasi dapat terkendali dan kepentingan rakyat tetap terjaga dalam koridor demokrasi yang sehat.
Dalam perkembangannya, isu ini akan terus menjadi sorotan dan membutuhkan penanganan yang bijaksana dari berbagai pihak. Keterlibatan aktor-aktor tertentu yang diduga berupaya memanfaatkan momentum ini perlu diidentifikasi dan dibendung agar tidak menimbulkan gejolak yang lebih besar di tengah masyarakat.
Sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas, pemerintah dan aparat keamanan diharapkan dapat bersikap tegas namun tetap mengedepankan prinsip-prinsip demokrasi. Sementara itu, masyarakat juga diharapkan untuk tetap kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah belah persatuan bangsa.







