MALANG, Zona Malang – Jelang 6 bulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sejumlah tokoh nasional yang dekat dengan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan ke kediaman Jokowi di Kota Solo, Jawa Tengah. Kunjungan tersebut menarik perhatian publik dan mengundang berbagai spekulasi.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi, dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, masing-masing datang ke rumah Jokowi pada hari raya Lebaran, 31 Maret 2025. Luhut dan Pratikno datang di hari yang sama, sementara Budi Arie menyusul keesokan harinya, 1 April 2025.
Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya pernah menduduki posisi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia, serta Pelaksana Tugas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia di era pemerintahan Jokowi. Sementara Pratikno menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara Indonesia dan Pelaksana Tugas Sekretaris Kabinet Indonesia.
Budi Arie Setiadi juga pernah menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia serta Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Indonesia pada masa pemerintahan Jokowi.
Selain ketiga tokoh tersebut, Putra Presiden Prabowo Subianto, Didit Hediprasetyo, juga turut mengunjungi Jokowi di hari yang sama. Didit Hediprasetyo bahkan mengunjungi mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada hari yang sama.
Kunjungan para tokoh nasional ini kemudian menjadi sorotan publik, terutama dari mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu. Melalui cuitan di media sosial X pribadinya, Said Didu menyoroti beberapa hal menarik terkait pemanggilan trio “diehard” Jokowi oleh Jokowi di Solo.
“Tepat 20 hari menjelang 6 bulan pemerintahan Prabowo, TRIO ‘diehard’ Jokowi (LBP, Pratikno, dan Budi Arie) dipanggil/menghadap Jokowi di Solo,” tulis Said Didu.
Said Didu menyoroti pernyataan Luhut Binsar Pandjaitan yang tiba-tiba menyatakan bahwa Jokowi tidak pernah melanggar hukum dan konstitusi. Menurutnya, pernyataan ini dapat dimaknai sebagai pesan agar tidak ada tuntutan untuk mengadili Jokowi, serta tidak mempermasalahkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Lebih lanjut, Said Didu mengungkapkan bahwa ia masih menunggu gebrakan apa yang akan dilakukan oleh trio tersebut dalam beberapa hari ke depan. Ia juga menyinggung kemungkinan adanya demonstrasi yang menuntut “Turunkan Prabowo dan masukkan TNI ke Barak” sebagai pengganti tuntutan rakyat untuk “Adili Jokowi dan Lawan Oligarki”.
Kunjungan para tokoh nasional ini tentu menarik perhatian publik dan menimbulkan berbagai spekulasi. Apakah ada agenda tertentu di balik pertemuan ini? Atau hanya sekadar silaturahmi biasa? Masyarakat akan terus mengikuti perkembangan situasi politik di tanah air dalam beberapa hari ke depan.







