MALANG, Zona Malang – Presiden Prabowo Subianto angkat bicara terkait insiden teror kepala babi yang dikirimkan ke kantor media dan jurnalis Tempo beberapa waktu lalu. Dalam wawancara dengan tujuh jurnalis senior di kediamannya di Hambalang, Bogor, Prabowo mengaku sempat kaget mendengar kejadian tersebut.
Prabowo menduga, pelaku atau pengirim kepala babi hanya ingin mengadu domba dan menciptakan suasana yang tidak baik. “Saya juga kaget masalah kepala babi dan apa itu juga saya kira, gaya-gaya apa ya, taktik, teknik gitu-gitu, saya kira yang melakukan itu ingin mengadu domba, ingin menciptakan suasana yang tidak baik,” kata Prabowo.
Meski begitu, Prabowo mengakui respons Kepala Kantor Komunikasi Presiden, Hasan Nasbi, yang mengatakan bahwa kepala babi “dimasak saja” teledor dan keliru. Prabowo memastikan bahwa Hasan Nasbi telah menyesali ucapannya tersebut.
“Tapi benar itu ucapan yang menurut saya teledor, itu ya keliru itu, saya kira beliau menyesal,” ujar Prabowo. Prabowo menduga kekeliruan tersebut karena Hasan Nasbi masih baru menduduki posisi itu. Menurut Prabowo, Hasan yang sebelumnya berasal dari dunia survei, belum bisa menyesuaikan gaya komunikasi instansi pemerintahan.
“Jadi kadang-kadang orang yang dari dunia perencana atau dunia survei atau dunia akademis muncul di panggung publik kurang cepat menyesuaikan menurut saya,” kata Prabowo.
Di sisi lain, Prabowo juga mengakui bahwa gaya komunikasi pemerintahannya buruk dalam 150 hari pertama. Menurutnya, pihaknya terlalu antusias mengerjakan program-program di awal pemerintahan, sehingga gaya komunikasi kerap diabaikan. Padahal, hal itu penting untuk memberikan persepsi yang baik kepada publik.
“Itu makanya saya anggap ini mungkin salah saya. Kalau Anda perhatikan kemana-mana, saya pergi, saya tidak ada wartawan yang embed sama saya dan sebagainya. Karena pendekatan saya waktu itu adalah kerja dan evidence. Kalau saya bisa bikin ini, pasti orang menilai dengan objektif, ternyata tidak seperti itu politik adalah persepsi,” kata Prabowo.
Prabowo mengakui bahwa pendekatan yang terlalu fokus pada hasil kerja dan bukti nyata ternyata tidak cukup dalam dunia politik, yang lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi publik. Oleh karena itu, Prabowo menyatakan bahwa ia ingin memperbaiki gaya komunikasinya ke depan.
“Karena itu saya mau perbaiki itu,” imbuh Prabowo.
Insiden teror kepala babi yang dikirimkan ke kantor Tempo ini menciptakan kontroversi dan menuai kritik dari berbagai pihak. Tanggapan Prabowo dan pengakuannya atas kekeliruan dalam gaya komunikasi pemerintahannya diharapkan dapat memperbaiki citra dan persepsi publik terhadap pemerintahan saat ini.







