Prabowo Terdesak! Kajian Ungkap Oligarki dan Asing Kacaukan Indonesia

MALANG, Zona Malang – Gagasan mengenai munculnya sosok Presiden baru yang benar-benar mandiri pada 20 April 2025 dinilai terlalu dini dan tidak realistis. Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi, menyebut gagasan tersebut sebagai “utopis dan prematur” menanggapi tulisan aktivis senior Said Didu yang berharap Indonesia segera memiliki pemimpin sejati, bukan presiden bayangan dari era Joko Widodo.

Sutoyo menyatakan bahwa fakta menunjukkan kepemimpinan Prabowo Subianto hingga kini masih sangat erat kaitannya dengan bayang-bayang Jokowi dan kekuatan oligarki. Ia menyebutkan empat hal mendasar yang menjadi indikasi kuat, yaitu Wapres adalah anak Jokowi, kabinet penuh loyalis Jokowi, Prabowo sering minta arahan Jokowi, dan Jokowi dianggap guru politik.

Menurut Sutoyo, gagasan untuk munculnya “Presiden Baru” dalam waktu dekat tidak memiliki landasan politik maupun hukum yang jelas. Ia bahkan menyebut harapan itu lebih tepat disebut sebagai “tes ombak” atau hanya sekadar angan-angan.

Sutoyo juga mengaitkan dominasi pengaruh Tiongkok dalam politik dan ekonomi Indonesia sejak era Jokowi. Ia menuding bahwa baik Jokowi maupun Prabowo telah berada dalam orbit kekuatan asing melalui proyek Belt and Road Initiative (BRI) yang dijalankan oleh Presiden China, Xi Jinping.

“Prabowo tak berkutik saat kedaulatan Indonesia diacak-acak. Kekuasaan oligarki dan strategi asing berjalan tanpa hambatan,” ucap Sutoyo.

Sutoyo menyinggung proyek strategis nasional (PSN) yang disebutnya sebagai upaya aneksasi terselubung oleh kekuatan oligarki dan strategi China untuk mengepung kota dari wilayah desa dan pesisir. Ia menegaskan bahwa PSN bukan pembangunan nasional murni, melainkan strategi terselubung yang merupakan penghianatan terhadap kedaulatan.

Dalam analisisnya, Sutoyo menyampaikan bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan bangsa adalah melalui pemimpin yang lahir dari proses yang bersih dan bebas dari kendali kekuatan asing maupun oligarki. Ia menegaskan bahwa perubahan sejati membutuhkan revolusi rakyat, bukan sulap politik 10 hari.

Sutoyo menilai, gagasan Said Didu tentang munculnya Presiden baru yang benar-benar mandiri pada 20 April 2025 terlalu dini dan tidak realistis. Ia menyebut gagasan tersebut sebagai “utopis dan prematur” karena fakta menunjukkan bahwa kepemimpinan Prabowo Subianto masih sangat erat kaitannya dengan bayang-bayang Jokowi dan kekuatan oligarki.

Dalam tulisannya, Said Didu menyebut Indonesia membutuhkan Presiden yang benar-benar baru untuk membenahi berbagai kerusakan yang ditinggalkan rezim sebelumnya. Namun, Sutoyo menilai bahwa gagasan untuk munculnya “Presiden Baru” dalam waktu dekat tidak memiliki landasan politik maupun hukum yang jelas.

Sutoyo juga menyoroti dominasi pengaruh Tiongkok dalam politik dan ekonomi Indonesia sejak era Jokowi. Ia menuding bahwa baik Jokowi maupun Prabowo telah berada dalam orbit kekuatan asing melalui proyek Belt and Road Initiative (BRI) yang dijalankan oleh Presiden China, Xi Jinping. Sutoyo menyebut bahwa Prabowo tak berkutik saat kedaulatan Indonesia diacak-acak, dan kekuasaan oligarki serta strategi asing berjalan tanpa hambatan.