Prajurit TNI Dikabarkan Dijauhkan dari Masyarakat, Apa Alasannya?

MALANG, Zona Malang – Menanggapi polemik yang belakangan mencuat terkait isu horor tentang keterlibatan TNI di lingkungan akademik, Direktur Merah Putih Stratejik Institut (MPSI), Noor Azhari, angkat bicara. Ia menyatakan bahwa narasi yang dibangun seolah-olah kehadiran TNI di kampus menjadi momok menakutkan adalah keliru dan tidak berdasar.

Noor Azhari menilai ada upaya sistematis yang beraroma dendam untuk memusuhi TNI. Ia menegaskan bahwa tudingan bahwa TNI mengintimidasi kehidupan kampus justru memperlihatkan adanya grand design untuk menjauhkan sivitas akademika dari institusi yang menjadi garda utama bangsa.

“Kami tidak habis pikir, sepertinya ada upaya sistematis beraroma dendam memusuhi TNI. Tudingan bahwa TNI mengintimidasi kehidupan kampus itu justru memperlihatkan adanya grand design untuk menjauhkan sivitas akademika dari institusi yang menjadi garda utama bangsa,” tegas Noor Azhari.

Menurutnya, kelompok yang menolak keterlibatan TNI dalam berbagai kegiatan akademik tampak melupakan akar sejarah bangsa. Noor menegaskan bahwa TNI dan kampus merupakan garda utama dalam memperjuangkan dan menjaga kedaulatan Indonesia.

Selain itu, Noor Azhari juga menyoroti fakta bahwa citra TNI di mata rakyat sangat positif. Beberapa survei nasional, kata Noor, menempatkan TNI sebagai institusi negara dengan tingkat kepercayaan publik tertinggi, mendekati angka 90 persen. Hal ini, menurutnya, bukan sekadar angka, melainkan refleksi nyata dari kedekatan TNI dengan rakyat.

Lebih lanjut, Noor mengingatkan bahwa amanah reformasi justru membuka ruang legal dan konstitusional bagi TNI untuk berperan aktif dalam penguatan ketahanan dan pertahanan negara melalui mandat yang diberikan negara.

“Kami berprasangka baik terhadap mereka yang membangun narasi horor terhadap TNI, dan mengidentifikasi adanya kekuatan tertentu yang mencoba mendiskreditkan alat negara. Jangan sampai kampus dijadikan alat untuk menabur ketakutan dan memecah kepercayaan publik kepada sesama komponen bangsa,” pungkas Noor Azhari.

Pernyataan Noor Azhari ini muncul sebagai tanggapan atas polemik yang belakangan mencuat terkait isu horor TNI masuk kampus. Ia menegaskan bahwa kehadiran TNI di lingkungan akademik bukanlah momok menakutkan, melainkan bagian dari upaya memperkuat ketahanan dan pertahanan negara.

Noor Azhari juga menyoroti adanya upaya sistematis untuk menjauhkan sivitas akademika dari institusi yang menjadi garda utama bangsa. Ia mengingatkan bahwa TNI dan kampus merupakan komponen penting dalam menjaga kedaulatan Indonesia, sehingga tidak seharusnya dipertentangkan.

Selain itu, Noor juga menyoroti fakta bahwa citra TNI di mata rakyat sangat positif, dengan tingkat kepercayaan publik yang tinggi. Hal ini, menurutnya, menunjukkan kedekatan TNI dengan rakyat dan bukan sekadar angka.

Dalam kesimpulannya, Noor Azhari menegaskan bahwa amanah reformasi telah membuka ruang legal dan konstitusional bagi TNI untuk berperan aktif dalam penguatan ketahanan dan pertahanan negara. Ia berharap agar kampus tidak dijadikan alat untuk menabur ketakutan dan memecah kepercayaan publik terhadap sesama komponen bangsa.