Zona Malang – Sebuah tim mahasiswa dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) berhasil mencuri perhatian dengan ide platform aplikasi digital yang dirancang khusus untuk memajukan perekonomian Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Inovasi ini mengintegrasikan berbagai layanan dalam satu aplikasi Tenggrow.id, mulai dari penjualan produk pertanian dan UMKM khas Suku Tengger, penyewaan Jeep untuk wisata, pemesanan homestay secara online, paket tur lengkap, hingga jasa pemandu dan informasi atraksi budaya tradisional.
Platform tersebut menawarkan kemudahan seperti reservasi online, harga yang transparan, promosi berbasis narasi budaya lokal, serta manajemen terpusat untuk semua layanan. Lebih dari sekadar alat transaksi, aplikasi ini berfungsi sebagai vitrin digital yang memamerkan kekayaan desa, memperkuat identitas budaya Tengger, dan meningkatkan kompetitivitas ekonomi melalui pariwisata berkelanjutan yang berakar pada kearifan lokal.
Ide brilian ini datang dari tim Arek Brawijata, yang dipimpin Mohamad Badrul Anam Arrokhim sebagai ketua, bersama Dimas Andhika Mahabi, Septira Arshiana, dan Intan Sophia Anggraini. Mereka dibimbing oleh Wisynu Ari Gutama, S.P., M.MA. Menurut Badrul, platform ini dibuat untuk menghubungkan potensi ekonomi desa dengan pasar lebih luas, sambil tetap melestarikan warisan budaya Tengger yang diwariskan secara turun-temurun. Dengan menggabungkan UMKM, pariwisata, dan elemen budaya dalam satu sistem, tim berharap masyarakat lokal bisa meraih pendapatan berkelanjutan tanpa kehilangan jati diri.
Prestasi gemilang diraih ketika konsep ini menyabet juara 3 pada Lomba Business Plan Nasional Gemilang Desa 2025, yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM). Kompetisi ini menjadi ajang bagi ide-ide inovatif untuk pembangunan desa di Indonesia.
Desa Wonokitri, sebagai salah satu penyangga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), kaya akan alam pegunungan, hortikultura dataran tinggi, dan tradisi Suku Tengger seperti gotong royong serta ritual adat. Namun, tantangan seperti rendahnya nilai tambah produk pertanian, akses pasar terbatas, dan kurangnya sinergi antara sektor agraris dengan pariwisata masih menghambat. Inovasi ini diharapkan mendorong peningkatan pendapatan warga, perluasan pasar, serta keterlibatan generasi muda dalam ekonomi digital, sekaligus menjaga kelestarian budaya.
Desa Wonokitri dikenal sebagai Desa Wisata Edelweiss, satu-satunya di Indonesia yang memiliki izin budidaya bunga abadi ini untuk konservasi dan ritual adat Suku Tengger, sekaligus menjadi daya tarik utama pariwisata yang menggabungkan keindahan alam Bromo dengan kekayaan budaya lokal.

Bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan, segera kolaborasikan dengan tim mahasiswa ini untuk mengimplementasikan aplikasi secara nyata, termasuk pelatihan digital bagi warga desa. Selain itu, promosikan platform ini melalui media sosial dan kerjasama dengan agen travel untuk menarik lebih banyak wisatawan, sehingga model ini bisa direplikasi di desa adat lain guna mendukung pembangunan berkelanjutan nasional.
Generasi muda di desa-desa serupa disarankan aktif belajar teknologi digital untuk mengelola usaha sendiri, sambil melibatkan tokoh adat agar inovasi tetap selaras dengan nilai kearifan lokal, menghindari hilangnya identitas budaya di tengah modernisasi.







