Zona Malang – Label “emas orang miskin” yang melekat pada perak selama puluhan tahun mulai pudar. Di era harga emas Antam yang terus memecahkan rekor dan sulit dijangkau investor pemula, Generasi Z (Gen Z) justru menemukan peluang cuan baru melalui perak fisik berupa batangan (bullion) dan koin murni. Bukan lagi sekadar perhiasan, perak kini dilihat sebagai aset berwujud yang terjangkau, berpotensi tinggi, dan selaras dengan nilai-nilai modern anak muda.
Fenomena ini semakin kentara di akhir 2025 hingga awal 2026, di mana banyak anak muda dengan modal terbatas—seperti mahasiswa dan fresh graduate—beralih ke perak karena entry barrier yang jauh lebih rendah dibanding emas. Harga emas Antam per gram kini berkisar Rp 2,7–2,8 juta (berdasarkan update terbaru dari platform seperti IndoGold dan Lakuemas pada 27 Januari 2026), sehingga dengan Rp 500.000, investor hanya bisa mendapatkan kurang dari 0,2 gram emas. Sebaliknya, harga perak murni domestik masih relatif terjangkau, sekitar Rp 15.000–25.000 per gram (meski harga global spot perak melonjak ke atas US$ 100–107 per troy ounce atau setara jutaan rupiah per kilogram), memungkinkan pembelian puluhan gram dengan budget serupa.
Kalau Beli Emas Rasanya Mahal
“Kalau beli emas, rasanya mahal dan cuma dapat sedikit. Dengan modal sama, saya bisa punya perak batangan yang terasa nyata dan memuaskan secara psikologis,” ujar Indah, investor Gen Z asal Serang, seperti dikutip radarbanten.co.id (November 2025).
Dari perspektif psikologis, memiliki aset fisik dalam jumlah lebih besar memberikan rasa kepemilikan yang lebih kuat bagi generasi yang tumbuh di era digital.
Salah satu pendorong utama adalah **Silver-Gold Ratio** yang masih melebar di kisaran 57–60:1 (berdasarkan data awal 2026 dari JM Bullion dan GoldSilver), menandakan perak sedang “undervalued” dibanding emas. Secara historis, ketika emas naik 10 persen, perak cenderung melonjak lebih tajam—bahkan hingga 20–30 persen—karena volatilitasnya yang tinggi. Karakter “high risk, high return” ini sangat cocok dengan profil Gen Z yang lebih berani mengambil risiko demi pertumbuhan cepat.
Lebih dari sekadar spekulasi, perak memiliki fundamental kuat sebagai komoditas industri. Lebih dari 50 persen permintaan global berasal dari sektor teknologi, terutama panel surya (fotovoltaik), kendaraan listrik (EV), dan semikonduktor. Data The Silver Institute menunjukkan permintaan perak untuk panel surya melonjak signifikan, diprediksi mencapai ratusan juta ons per tahun menuju 2030, sementara adopsi EV global terus meningkat. Gen Z, yang peduli isu lingkungan dan transisi energi hijau, melihat investasi perak sebagai cara mendukung ekonomi berkelanjutan sekaligus berpotensi untung.
Di Indonesia, tren ini selaras dengan lonjakan perdagangan logam mulia fisik dan digital. Meski data ICDX mencatat nilai transaksi mencapai Rp 115,6 triliun di 2025 (tumbuh >100 persen YoY), minat Gen Z lebih dominan pada emas digital via Pegadaian (pertumbuhan 116 persen YoY di kalangan usia 18–27 tahun), namun perak mulai dilirik sebagai diversifikasi karena potensi upside lebih agresif.
Dari sisi gaya hidup, perak juga menang estetika. Warna netral, minimalis, dan “edgy” membuat batangan atau koin perak edisi terbatas sering dipamerkan di media sosial sebagai simbol kecerdasan finansial. Investasi perak bukan lagi soal simpan nilai semata, tapi bagian dari identitas generasi yang melek teknologi dan sadar keberlanjutan.
Meski menjanjikan, para ahli mengingatkan risiko likuiditas. Berbeda dengan emas yang mudah dijual di toko perhiasan tradisional, perak fisik memerlukan kanal resmi seperti butik logam mulia atau platform bursa untuk mendapatkan harga buyback optimal. Volatilitas tinggi juga berarti potensi kerugian jangka pendek, sehingga cocok bagi investor dengan horizon panjang dan toleransi risiko tinggi.
Secara keseluruhan, pergeseran ini mencerminkan adaptasi Gen Z terhadap realitas ekonomi: ketika emas semakin “elit”, perak muncul sebagai “emas baru” yang terjangkau, berpotensi, dan relevan dengan masa depan teknologi hijau. Bagi anak muda yang ingin mulai investasi logam mulia, perak kini bukan lagi pilihan kedua—melainkan strategi cerdas di tengah gejolak pasar global. (Disclaimer: Harga fluktuatif; selalu pantau update terkini dari sumber resmi sebelum bertransaksi.)







