Jakarta, Zona Malang – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) sedang mempersiapkan langkah tegas pasca-SEA Games 2025 di Thailand, dengan rencana memberikan sanksi kepada cabang olahraga (cabor) yang tidak mencapai target medali. Kebijakan ini muncul dari proses evaluasi komprehensif yang sedang berlangsung, di mana setiap prestasi atlet dievaluasi secara detail untuk menentukan reward and punishment yang adil.
Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Surono, mengungkapkan bahwa rapat evaluasi telah memetakan performa masing-masing cabor. Beberapa di antaranya gagal memenuhi ekspektasi, sementara yang lain justru melampaui target dan berhak atas penghargaan. “Ada cabor yang tidak sesuai target, ada yang pas, bahkan ada yang melebihi – nanti ada reward untuk yang sukses dan sanksi untuk yang kurang,” katanya, tanpa merinci bentuk hukuman spesifik seperti pemotongan anggaran atau pembatasan program.
Surono juga menegaskan bahwa evaluasi ini menyeluruh, termasuk cabang sepak bola yang gagal meraih medali perak setelah tersingkir lebih awal. “Semua cabor dievaluasi tanpa terkecuali, bukan hanya satu atau dua saja,” tambahnya, menandakan tidak ada pengecualian meski sepak bola sering jadi sorotan publik.
Meski ada kegagalan di beberapa sektor, Indonesia secara keseluruhan berhasil finis di posisi kedua klasemen dengan 91 emas, 111 perak, dan 131 perunggu – melampaui target 80 emas yang ditetapkan Kemenpora.
Sebagai fakta menarik, Indonesia mencatatkan raihan 91 medali emas di SEA Games 2025 sebagai yang tertinggi ketiga saat tidak menjadi tuan rumah, setelah 87 emas di Filipina 2019 dan 84 emas di Vietnam 2021, menurut data resmi Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Selain itu, total medali 333 ini menjadi rekor baru bagi kontingen Garuda di luar negeri, melebihi capaian sebelumnya dan menunjukkan peningkatan konsistensi meski ada cabor underperform.
Untuk saran, Kemenpora sebaiknya transparan dalam mengumumkan hasil evaluasi lengkap beserta kriteria sanksi, agar publik bisa memahami dan mendukung proses perbaikan, sekaligus hindari polemik tidak perlu di masyarakat olahraga. Selain itu, alih-alih hanya hukuman, fokuskan pada program pembinaan jangka panjang seperti talenta scouting dini dan peningkatan fasilitas pelatihan untuk cabor lemah, sehingga target SEA Games berikutnya lebih realistis dan prestasi nasional semakin sustainable tanpa bergantung pada status tuan rumah.







