Permadi Arya Alias Abu Janda Tuai Kecaman Keras Usai Sebut Muslim Jabar dan Sumbar “Barbar”

Pernyataan kontroversial Permadi Arya alias Abu Janda soal umat Islam Jabar dan Sumbar picu kecaman. Ustaz Helmi Firdaus desak penanganan hukum demi kerukunan umat beragama.

Zonamalang.com – Kontroversi kembali menyelimuti aktivis media sosial Permadi Arya yang dikenal dengan sebutan Abu Janda. Kali ini, ucapannya yang dinilai menghina umat Islam di dua provinsi Indonesia memantik amarah publik dan tokoh agama.

Kegaduhan bermula dari beredarnya cuplikan video yang memperlihatkan Abu Janda tengah berceramah di hadapan komunitas Kristiani di Amerika Serikat. Dalam rekaman tersebut, ia mengenakan kaos dengan gambar salib berukuran besar sambil melontarkan pernyataan yang menyinggung sensitivitas keagamaan.

Dalam orasinya, pria kontroversial itu menyatakan bahwa praktik keislaman di Jawa Barat dan Sumatera Barat cenderung lebih radikal. Ia bahkan menggunakan istilah “barbar” untuk menggambarkan karakteristik umat Islam di kedua wilayah tersebut.

“Saya juga aneh, yang ada bar-barnya kok banyak barbar,” ujar Abu Janda dalam video yang kemudian tersebar luas di berbagai platform digital. Pernyataan ini langsung menuai badai kritik dari berbagai kalangan masyarakat Indonesia.

Menanggapi pernyataan tersebut, Ustaz Helmi Firdaus menyuarakan keprihatinan mendalam. Melalui akun media sosialnya, ulama tersebut menilai bahwa narasi yang dibangun Abu Janda sangat membahayakan keharmonisan sosial yang telah terjalin di Indonesia.

“Ini Abu Janda sudah luar biasa jahat fitnahnya. Muslim di wilayah barat, khususnya Jabar & Sumbar dibilang barbar, intoleran dll. Kalau narasi-narasi perpecahan seperti ini yang memang khas Abu Janda terus dibiarkan, tidak ada tindakan hukum terhadap ybs, saya khawatir masyarakat akan mengambil tindakan sendiri,” tegas Helmi Firdaus.

Ia menambahkan bahwa tanpa penindakan hukum yang jelas, dikhawatirkan masyarakat akan mengambil langkah sendiri untuk merespons provokasi tersebut. Helmi kemudian menggaungkan tagar #tangkapabujanda sebagai bentuk desakan agar aparat penegak hukum segera bertindak.

Jejak Kontroversi yang Panjang

Sosok Abu Janda memang bukan nama baru dalam kancah polemik publik Indonesia. Meski mengklaim diri sebagai pembela toleransi dan hak-hak minoritas, sejumlah pernyataannya justru kerap memicu perpecahan.

Catatan kontroversialnya mencakup laporan dugaan ujaran kebencian pada 2021 yang sempat ditangani Polda Metro Jaya. Namun, kasus tersebut tidak menunjukkan perkembangan signifikan hingga kini.

Beberapa waktu lalu, ia juga tersandung insiden di sebuah program televisi saat membahas isu Israel. Perdebatan yang memanas berujung pada pengusiran dirinya dari studio karena menggunakan bahasa yang tidak pantas.

Respons Masyarakat di Media Sosial

Cuplikan video kontroversial tersebut dengan cepat menyebar di berbagai kanal media sosial. Warganet, khususnya dari Jawa Barat dan Sumatera Barat, mengekspresikan kekecewaan dan kemarahan mereka.

Banyak netizen yang menilai pernyataan Abu Janda tidak hanya menyinggung perasaan umat Islam, tetapi juga berpotensi merusak tatanan kerukunan antarumat beragama yang selama ini dijaga dengan baik di Indonesia.

Ancaman terhadap Keharmonisan Sosial

Para pengamat sosial mengingatkan bahwa retorika yang memecah belah seperti yang dilontarkan Abu Janda dapat menggerus fondasi kebhinekaan Indonesia. Pernyataan yang menggeneralisasi karakteristik umat beragama di wilayah tertentu dinilai sangat berbahaya.

Indonesia sebagai negara dengan keberagaman agama dan budaya memerlukan kehati-hatian dalam setiap pernyataan publik, terutama yang menyangkut isu sensitif seperti agama dan etnisitas.

Desakan Penanganan Hukum

Berbagai pihak kini mendesak aparat penegak hukum untuk mengambil langkah tegas. Mereka berargumen bahwa membiarkan ujaran yang berpotensi memicu konflik horizontal akan menciptakan preseden buruk bagi kebebasan berpendapat yang bertanggung jawab.

Kepolisian diharapkan dapat segera menindaklanjuti laporan dan aduan masyarakat terkait pernyataan kontroversial tersebut. Langkah hukum yang jelas dinilai penting untuk menjaga stabilitas sosial dan memberikan efek jera bagi siapa pun yang mencoba memecah belah persatuan bangsa.

Kasus ini kembali mengingatkan pentingnya literasi digital dan etika berkomunikasi di ruang publik, terutama bagi figur-figur yang memiliki pengaruh di media sosial.