Tari Topeng Malang Memukau dalam Penutupan Kolaborasi Internasional UM

Penampilan Tari Topeng Malang oleh penari asing tadi malam menjadi simbol pertemuan dua dunia, tradisi dan globalisasi yang bukan saling menghapus, tetapi justru saling menguatkan.

MALANG, Zona Malang – Kemeriahan atas apresiasi dan antusias para penonton terlihat begitu meriah menggema di Outdoor Learning Space Universitas Negeri Malang (UM), Jumat (11/7/2025) malam, saat sekelompok penari asal Singapura membawakan Tari Topeng Malang. Momen ini menjadi penanda puncak penutupan program kolaborasi internasional yang digagas oleh Departemen Sejarah UM, bekerja sama dengan sejumlah mitra dari dalam dan luar negeri, termasuk Malay Heritage Foundation Singapura.

Dalam balutan busana tradisional dan gerakan tari yang penuh makna, para penari asing tersebut tidak hanya mempertontonkan keterampilan, tapi juga menyampaikan pesan budaya hasil dari satu bulan penuh proses pembelajaran intensif dalam program art residency. Penampilan ini sekaligus menjadi bentuk nyata transfer nilai lintas budaya dan wujud kecintaan terhadap kekayaan lokal Indonesia.

Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., hadir langsung dalam kegiatan ini bersama jajaran pimpinan Fakultas Sastra, para dosen, narasumber, serta peserta dari tiga program utama: art residency, summer course, dan pelatihan sejarah lisan untuk guru. Penutupan yang berlangsung dalam suasana hangat dan reflektif ini menjadi ruang temu lintas bangsa yang memperkuat jaringan pendidikan dan kebudayaan internasional.

“Penutupan ini bukan sekadar seremoni, melainkan panggung apresiasi atas learning outcome peserta,” ujar Dr. Indah Wahyu Puji Utami, Ph.D., Kepala Departemen Sejarah UM, dalam sambutannya.

Ia menekankan bahwa program ini merupakan bagian dari misi UM untuk mendorong pembelajaran global yang humanis, inklusif, dan berdampak langsung, sejalan dengan prinsip kolaborasi antar budaya.

Kolaborasi Menuju SDGs

Lebih dari sekadar pertukaran pengetahuan, kolaborasi ini juga menjadi kontribusi nyata terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Khususnya pada aspek pelestarian budaya (SDG 11), pendidikan berkualitas (SDG 4), dan kemitraan global (SDG 17).

“Kami ingin membangun koneksi yang berkelanjutan dan bermakna. Proyek kolaboratif ini adalah upaya kami mendorong diplomasi budaya yang edukatif dan transformatif,” tambah Dr. Indah.

Melalui sesi-sesi pelatihan sejarah lisan, para guru dari berbagai wilayah di Indonesia juga dibekali pendekatan baru dalam mengarsipkan memori kolektif dan narasi sejarah masyarakat, menjadikan program ini sebagai investasi intelektual jangka panjang.

Dalam penutupan, Prof. Hariyono menyampaikan pandangan reflektif mengenai peran sejarah di masa depan.

“Sejarah lisan ke depan tidak hanya menjadi ruang dialog antara sejarawan dan pelaku sejarah, tapi juga alat emansipasi bagi masyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya, sejarah harus dipahami bukan hanya sebagai deretan peristiwa, melainkan sebagai ruang hidup yang mampu membebaskan, menguatkan identitas, dan menjembatani berbagai kelompok sosial.

Lebih dari sekadar akhir program, kegiatan ini justru menjadi permulaan dari jejaring kerja sama yang lebih luas. Dengan melibatkan seniman, akademisi, dan pendidik dari berbagai negara, UM menegaskan posisinya sebagai salah satu kampus pelopor pembelajaran interkultural dan pelestari warisan budaya Indonesia di tingkat global.

Kolaborasi ini bukan hanya tentang belajar menari atau berdiskusi sejarah, melainkan tentang membangun masa depan pendidikan dan budaya yang inklusif, lintas batas, dan bermakna.

Sumber: UMM Malang