Zona Malang – Sebanyak 50 mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mendapatkan pembekalan komprehensif mengenai Keamanan, Keselamatan, dan Lingkungan (K3L) dalam sebuah pelatihan yang digelar di Balai Senat UB, Sabtu (20/9). Kegiatan ini bertujuan untuk mencetak duta-duta keselamatan yang mampu merespons berbagai potensi risiko di lingkungan kampus.
Pelatihan yang menggandeng pakar dari BPBD Kota Malang dan Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) ini tidak hanya membahas teori, tetapi juga membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis, termasuk simulasi pertolongan pertama pada henti jantung atau CPR (Cardiopulmonary Resuscitation).
Kepala Divisi K3L UB, Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, M. Kes, berharap para peserta dapat menjadi agen perubahan. “Mahasiswa, dosen, hingga tendik perlu berperilaku baik karena itu merupakan kunci cerminan sudah berbudaya K3L,” ujarnya. Materi yang diberikan mencakup perilaku aman di kampus, mulai dari berkendara hingga pengenalan alat pelindung diri.
Selain wawasan internal kampus, mahasiswa juga mendapatkan materi mitigasi bencana hidrometeorologi dari Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Malang, Dwi Hermawan Purnomo. Ia menekankan pentingnya tindakan preventif sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan untuk mencegah bencana seperti banjir.
Sesi yang paling menarik perhatian adalah pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang dibawakan oleh Dr. Aurick Yudha Nagara, Sp. EM, KPEC dari RSUB. Ia menekankan bahwa mahasiswa dan staf kampus harus mampu menjadi responden pertama saat terjadi kecelakaan, karena tenaga kesehatan profesional seringkali membutuhkan waktu untuk tiba di lokasi. Puncak dari sesi ini adalah praktik langsung simulasi CPR yang diikuti secara antusias oleh para peserta.
Pelatihan K3L ini menjadi sebuah hal penting dan pengingat bagi seluruh civitas akademika. Inisiatif untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan tanggap darurat seperti P3K dan CPR menggarisbawahi bahwa keselamatan di lingkungan kampus adalah tanggung jawab bersama.
Di sebuah kampus yang besar dan dinamis, setiap individu berpotensi menjadi penolong pertama dalam situasi darurat. Oleh karena itu, penguasaan keterampilan dasar penyelamatan jiwa menjadi sebuah keahlian esensial yang tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi seluruh komunitas di sekitar kita.







