“Pamer” Status Kota Kreatif UNESCO, Wali Kota Malang Sambut 44 Delegasi Rembug Fiskal APEKSI di Balai Kota

Zona Malang – Suasana Balai Kota Malang pada Kamis (6/11) malam terasa berbeda dari biasanya. Para pimpinan dan perwakilan delegasi dari 44 kota di seluruh Indonesia berkumpul untuk menghadiri jamuan makan malam istimewa. Ini bukan sekadar jamuan diplomatik, melainkan bagian dari agenda krusial Rembug Fiskal Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI).

Rembug Fiskal APEKSI sendiri merupakan salah satu forum paling strategis bagi para pemimpin kota. Di forum inilah mereka “curhat”, berdebat, dan berbagi gagasan konstruktif mengenai salah satu tantangan terberat dalam pemerintahan: mengelola anggaran. Acara ini menjadi ajang untuk membedah strategi peningkatan pendapatan daerah, efisiensi belanja, dan inovasi pembiayaan pembangunan di tengah tuntutan pelayanan publik yang kian tak terbatas.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, yang bertindak sebagai tuan rumah, memanfaatkan momentum ini untuk berbagi visi sekaligus memamerkan capaian kotanya. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pemerintah kota adalah ujung tombak pelayanan yang harus terus berinovasi. Ia secara khusus menyoroti bagaimana Kota Malang kini secara serius menguatkan sektor ekonomi kreatif sebagai mesin penggerak ekonomi baru.

Puncak dari presentasi Wali Kota Wahyu adalah saat ia mengumumkan pencapaian terbaru yang paling membanggakan. “Kami memiliki potensi besar untuk menjadi pusat inovasi di tingkat nasional. Bahkan beberapa waktu lalu, kami juga telah menerima penghargaan sebagai Kota Kreatif UNESCO bidang Media Arts,” terangnya, disambut apresiasi dari para tamu delegasi.

Status Kota Kreatif UNESCO di bidang Media Arts ini bukan sekadar predikat atau piala. Bagi Malang, ini adalah sebuah model ekonomi baru yang terbukti berhasil dan kini menjadi “kartu AS” yang dipamerkan kepada kota-kota lain. Dengan ekosistem yang didukung puluhan perguruan tinggi, industri gim, animasi, dan digital storytelling di Malang tumbuh subur. Sektor ini terbukti mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi generasi muda dan berpotensi menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang signifikan. Inilah yang ingin ditunjukkan Malang: bahwa investasi di sektor kreatif adalah strategi fiskal yang cerdas.

Di sisi lain, Wali Kota Wahyu juga secara jujur memaparkan tantangan besar yang dihadapi. Ia menjelaskan bahwa Kota Malang kini telah menunjukkan karakteristik sebagai kota metropolitan, ditandai dengan jumlah penduduk yang tinggi, serta derasnya arus masuk ratusan ribu mahasiswa dan para pekerja komuter dari daerah sekitar.

Dinamika ini, menurutnya, adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menjadi motor penggerak ekonomi yang luar biasa. Di sisi lain, ia memberikan beban yang sangat berat pada infrastruktur kota, mulai dari kemacetan, pengelolaan sampah, hingga ketersediaan air bersih. “Hal tersebut memberikan dorongan untuk terus berbenah dan mengembangkan segala sektor agar Kota Malang menjadi kota modern yang berdaya saing,” lanjutnya.

Pada akhirnya, Wali Kota Wahyu menutup sambutannya dengan pesan kolaborasi. Ia meyakini bahwa setiap daerah memiliki keunggulan khas yang bisa dikembangkan. “Keberhasilan yang kami capai tak lepas dari semangat kolaborasi seluruh masyarakat. Karena itu, kolaborasi antardaerah menjadi kunci penting untuk saling belajar dan bersama-sama menciptakan kemajuan yang merata,” pungkas pria yang akrab disapa Pak Mbois itu.

Pertemuan APEKSI di Kota Malang ini menjadi sebuah validasi penting bagi Anda sebagai warga. Ini bukan sekadar acara makan malam antar pejabat, melainkan penegasan bahwa kota Anda kini telah “naik kelas” dan menjadi role model nasional dalam hal pengelolaan ekonomi kreatif.

Bagi Anda para pelaku industri media, game, dan animasi, ini adalah sinyal terkuat bahwa pemerintah kota menjadikan sektor Anda sebagai etalase utama. Ini membuka peluang lebih besar untuk kolaborasi, investasi, dan pengakuan yang lebih luas, yang pada akhirnya akan memperkuat ekosistem kreatif di mana Anda bernaung.