Harga Cabai Rawit Merokot, Pemkot Malang Aktifkan WTI

Pemkot Malang mengaktifkan Warung Tekan Inflasi (WTI) untuk menekan harga cabai rawit yang tembus Rp90 ribu per kilogram jelang Ramadhan. Simak selengkapnya.

Zona Malang – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang segera mengaktifkan kembali program Warung Tekan Inflasi (WTI) untuk menekan harga cabai rawit Malang yang melonjak hingga tembus Rp90 ribu per kilogram. Langkah darurat ini diambil sebagai antisipasi menjelang bulan suci Ramadhan agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Kebijakan ini menjadi prioritas mengingat cabai merupakan komoditas penting bagi kebutuhan dapur warga.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menegaskan bahwa pihaknya sedang berkoordinasi intensif dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk merealisasikan rencana tersebut. Fokus utama dari pertemuan ini adalah membuka kembali gerai WTI di pasar-pasar tradisional sebagai penyeimbang harga pasar yang kini merangkak naik.

“Kami akan berdiskusi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk membuka kembali Warung Tekan Inflasi di pasar supaya harganya kembali normal,” ujar Wahyu, Jumat.

Berdasarkan pantauan Badan Pangan Nasional di lapangan, harga cabai rawit di Pasar Oro-Oro Dowo tercatat sebagai yang tertinggi, yakni mencapai Rp90 ribu per kilogram. Angka ini jauh melampaui harga normal dan memicu kekhawatiran di kalangan konsumen menjelang hari-hari besar keagamaan.

Data resmi dari laman siskaperbapo.jatimprov.go.id juga memperlihatkan tren kenaikan yang cukup tajam dalam empat hari terakhir. Pada Kamis (12/2), harga rata-rata cabai rawit masih berada di kisaran Rp76 ribu per kilogram, terus merangkak naik dari hari-hari sebelumnya.

Rincian data menunjukkan bahwa pada Selasa (10/2) harga rata-rata di seluruh pasar Kota Malang sebesar Rp70.333 per kilogram, lalu naik tipis menjadi Rp72 ribu pada Rabu (11/2). Kenaikan berlanjut pada Kamis (12/2) menjadi Rp76.166 per kilogram dan kembali meningkat mendekati angka Rp77 ribu pada hari berikutnya.

Wahyu Hidayat menjelaskan bahwa lonjakan harga ini dipicu oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan yang meningkat drastis menjelang Ramadhan. Keterbatasan pasokan dari petani belum mampu menyerap tingginya kebutuhan masyarakat, sehingga harga di tingkat pengecer langsung merespons naik.

Meskipun Badan Pusat Statistik Kota Malang mencatat deflasi pada Januari lalu akibat panen raya, tren tersebut berbalik arah saat memasuki bulan puasa. Untuk mengatasi ini, Pemkot Malang tidak hanya mengandalkan WTI, tetapi juga memperkuat kerja sama antar daerah.

Pemerintah kota menjalin komunikasi dengan wilayah penghasil cabai seperti Kabupaten Malang, Lumajang, Jember, dan Probolinggo untuk memastikan pasokan aman. Diharapkan sinergi ini dapat membawa harga cabai rawit melandai kembali sehingga tidak memberatkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok.