Bantuan Belum Merata di Sejumlah Wilayah Flores, KemenHAM Turun Pantau Kondisi Pengungsi

KemenHAM menyalurkan bantuan dan memantau warga terdampak gempa Flores, NTT, setelah ditemukan wilayah yang distribusi bantuannya belum merata.

Zonamalang.com– Pemerataan bantuan menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian setelah gempa besar mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) menemukan masih ada masyarakat di sejumlah wilayah dengan akses sulit yang belum memperoleh bantuan secara optimal.

Temuan tersebut diperoleh setelah tim KemenHAM turun langsung melihat kondisi masyarakat terdampak sekaligus menyalurkan bantuan tanggap darurat.

Staf Khusus Menteri HAM Bidang Transformasi Digital dan Komunikasi Media, Thomas Harming Suwarta mengatakan, pemerintah perlu memastikan keterbatasan akses menuju lokasi bencana tidak membuat sebagian masyarakat tertinggal dalam memperoleh kebutuhan dasar.

“Kami mendengar langsung apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Ada wilayah-wilayah yang aksesnya cukup sulit dan masyarakat menyampaikan bahwa distribusi bantuan belum sepenuhnya merata,” kata Thomas dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, keluhan tersebut menjadi catatan penting dalam penanganan bencana. Distribusi logistik tidak cukup hanya menjangkau pusat-pusat pengungsian yang mudah diakses, tetapi perlu memastikan warga di daerah terpencil turut mendapatkan pelayanan.

KemenHAM pun mendorong koordinasi antarlembaga diperkuat agar pemetaan kebutuhan dan penyaluran bantuan dapat dilakukan lebih merata.

Sebagian Warga Masih Bertahan di Pengungsian

Situasi di Flores belum sepenuhnya kembali normal. Gempa utama bermagnitudo 7,7 mengguncang kawasan Laut Flores pada Sabtu (15/8/2026) dan berdampak terhadap sejumlah kabupaten di NTT. Aktivitas gempa susulan masih berlangsung beberapa hari setelah kejadian.

Kondisi itu membuat sebagian masyarakat memilih tetap tinggal di tempat pengungsian meski rumah mereka masih berdiri.

Rasa khawatir terhadap gempa susulan menjadi salah satu alasan warga belum berani kembali ke tempat tinggal masing-masing.

Thomas meminta masyarakat tetap mengikuti informasi dari pemerintah dan lembaga berwenang serta tidak memaksakan diri kembali ke bangunan yang kondisinya belum dipastikan aman.

“Masyarakat tetap tenang, tetapi harus selalu waspada. Keselamatan menjadi hal yang utama, terutama karena masih adanya gempa susulan,” ujarnya.

Selain tempat berlindung, kebutuhan makanan, air bersih, pelayanan kesehatan serta perlengkapan sehari-hari menjadi perhatian selama masa tanggap darurat.

Kondisi masyarakat juga dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Daerah yang akses jalannya terganggu atau berada jauh dari pusat distribusi membutuhkan pola penanganan yang berbeda agar bantuan dapat diterima tepat waktu.

Penanganan Bencana Dilihat dari Pemenuhan HAM

Keterlibatan KemenHAM dalam penanganan bencana menempatkan pemenuhan hak dasar masyarakat sebagai salah satu fokus utama.

Thomas mengatakan, masyarakat terdampak bencana memiliki hak untuk memperoleh perlindungan, bantuan kemanusiaan, tempat tinggal sementara dan berbagai kebutuhan pokok tanpa adanya diskriminasi.

Karena itu, indikator keberhasilan tanggap darurat tidak hanya dilihat dari jumlah bantuan yang dikirimkan. Pemerintah juga harus memastikan bantuan benar-benar sampai kepada kelompok yang membutuhkannya.

Perhatian khusus diperlukan terhadap kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil serta masyarakat yang berada di daerah dengan akses terbatas.

“Kami akan terus memantau kondisi warga terdampak dan mendorong koordinasi agar penanganan tanggap darurat berjalan tepat,” kata Thomas.

Ia menegaskan prinsip pemerataan perlu menjadi dasar dalam seluruh proses penanganan.

“Penanganan harus maksimal dan merata, sehingga seluruh masyarakat terdampak memperoleh bantuan sesuai kebutuhan,” lanjutnya.

Bantuan dari Berbagai Pihak Terus Bergerak

Penanganan dampak gempa Flores saat ini melibatkan berbagai unsur pemerintah, pemerintah daerah, lembaga kemanusiaan hingga masyarakat.

Sejumlah kementerian juga mulai mengirimkan bantuan sesuai bidang masing-masing. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, misalnya, menyiapkan puluhan tenda ruang kelas darurat dan ribuan paket kebutuhan sekolah setelah ratusan satuan pendidikan dilaporkan terdampak gempa di tujuh kabupaten.

Distribusi bantuan menjadi tantangan tersendiri mengingat wilayah terdampak tersebar di beberapa kabupaten dengan karakter geografis berbeda.

Kerusakan infrastruktur dan jauhnya jarak menuju sejumlah permukiman dapat memperlambat pengiriman logistik. Kondisi tersebut membuat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah hingga petugas di tingkat desa menjadi penting untuk memastikan kebutuhan masyarakat dapat dipetakan secara akurat.

Selain kebutuhan logistik, pemulihan jangka menengah juga perlu mulai diperhatikan. Rumah, sekolah, fasilitas kesehatan serta sarana publik yang mengalami kerusakan akan membutuhkan pemeriksaan sebelum kembali digunakan.

KemenHAM memastikan pemantauan terhadap kondisi masyarakat akan dilanjutkan selama masa tanggap darurat. Informasi yang diperoleh langsung dari warga akan menjadi bagian dari koordinasi dengan pihak terkait agar persoalan distribusi dapat segera ditindaklanjuti.

Bagi pemerintah, tantangan setelah gempa Flores bukan hanya mengirimkan sebanyak mungkin bantuan, tetapi memastikan masyarakat yang berada di lokasi paling sulit sekalipun tidak terlewat dari pelayanan.

Pemerataan bantuan, perlindungan kelompok rentan dan keselamatan masyarakat selama gempa susulan masih terjadi menjadi bagian penting dalam proses penanganan hingga situasi di Flores berangsur pulih.