ITN Malang Kirim Bantuan Air Bersih untuk Warga Terdampak Gempa Flores

ITN Malang mengirim bantuan air bersih, tandon, logistik, dan dukungan perbaikan jaringan perpipaan bagi warga terdampak gempa Flores di NTT.

MALANG, Zonamalang.com – Krisis air bersih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat di sejumlah wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, setelah gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang kawasan tersebut pada Sabtu (15/8/2026).

Merespons kondisi tersebut, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menerjunkan jaringan relawan dan alumninya untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Bantuan yang disalurkan tidak hanya berupa logistik, tetapi juga menyasar persoalan prasarana air minum yang terdampak gempa.

Langkah kemanusiaan tersebut mulai dilakukan sejak Senin (17/8/2026) di sejumlah wilayah terdampak, termasuk Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, hingga Sikka.

ITN Malang menyalurkan pasokan air bersih, tandon penampungan, bantuan logistik, tenda, serta dukungan teknis untuk membantu perbaikan jaringan perpipaan di beberapa daerah.

Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, mengatakan pihaknya langsung membangun koordinasi dengan aparat daerah serta jaringan alumni yang berada di lokasi terdampak.

Menurutnya, kebutuhan air bersih menjadi salah satu persoalan yang perlu segera ditangani karena berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat di pengungsian.

“Kami sangat berduka atas bencana gempa di NTT. Rasa sedih ini kami rasakan langsung karena banyak mahasiswa kami berasal dari NTT, NTB, serta kami juga punya banyak mitra kerja sama di sana. Kami mengambil inisiatif berkoordinasi dengan aparat setempat dan jaringan alumni di lokasi. Pasokan air bersih adalah kebutuhan vital yang paling mendesak saat ini, jadi kami fokus ke sana,” ujar Awan saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang, Rabu (19/8/2026).

Selain mengirimkan bantuan ke lokasi bencana, pihak kampus juga melakukan pendataan terhadap mahasiswa ITN Malang yang terdampak gempa.

Pendataan tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan pendampingan bagi mahasiswa yang keluarganya maupun daerah asalnya terdampak bencana.

Jaringan Alumni Dikerahkan ke Lokasi Terdampak

Penyaluran bantuan di lapangan dilakukan melalui jaringan alumni ITN Malang yang berada di wilayah NTT. Kegiatan tersebut berada di bawah koordinasi Dr Ir Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST, MSi, MM, dosen Perencanaan Wilayah dan Kota ITN Malang yang berasal dari Flores.

Ardiyanto mengatakan, bantuan dari berbagai pihak sebenarnya mulai mengalir ke wilayah terdampak. Namun, kondisi geografis dan keterbatasan akses membuat distribusinya belum sepenuhnya menjangkau masyarakat di daerah terpencil.

Karena itu, jaringan alumni turut melakukan pendataan terhadap lokasi-lokasi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

“Bantuan logistik saat ini sebenarnya sudah cukup banyak, tetapi jangkauannya belum merata karena akses yang terbatas. Selain logistik, ITN Malang juga berfokus pada pemenuhan air bersih yang sifatnya sangat mendesak,” katanya.

Menurutnya, bantuan yang diberikan tidak berhenti pada distribusi air minum. Tim juga membantu penyediaan tandon serta perbaikan jaringan pipa pada sejumlah sumber air yang mengalami gangguan setelah gempa.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi keilmuan ITN Malang sebagai perguruan tinggi berbasis teknologi dan rekayasa dalam membantu proses penanganan bencana.

Salurkan 15 Meter Kubik Air Bersih di Manggarai Timur

Salah satu wilayah yang menjadi sasaran bantuan adalah Kabupaten Manggarai Timur.

ITN Malang bekerja sama dengan UPTD Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Manggarai Timur untuk mendistribusikan sekitar 15 meter kubik air bersih menggunakan kendaraan tangki.

Pasokan air tersebut disalurkan ke sejumlah titik pengungsian di Borong, di antaranya Golo Cigir, Sentra IKM, Kantor Pertanahan, hingga Gang Kapela Peot.

Distribusi dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat yang terdampak gangguan pada sumber maupun jaringan penyediaan air setelah gempa.

Di tengah kondisi darurat, ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan penting, tidak hanya untuk minum, tetapi juga memasak, sanitasi, dan kebutuhan sehari-hari masyarakat yang masih berada di lokasi pengungsian.

Tandon Air Dikirim ke Desa di Kabupaten Ende

Bantuan serupa juga disalurkan ke Kabupaten Ende melalui kerja sama ITN Malang dengan Perumda Air Minum Tirta Kelimutu.

Pada Selasa (18/8/2026), tim menyalurkan air bersih, tandon berkapasitas 1.300 liter, serta bantuan beras kepada masyarakat di Desa Randorama dan Desa Randotonda, Kecamatan Ende.

Kondisi sumber air menjadi salah satu persoalan yang dihadapi warga setelah gempa. Sejumlah mata air yang sebelumnya digunakan masyarakat dilaporkan mengalami perubahan kondisi.

Direktur Perumda Tirta Kelimutu Ende, Herry Gani, mengatakan guncangan gempa berdampak terhadap beberapa sumber air warga.

Menurutnya, ada mata air yang berubah keruh, sementara sebagian lainnya mengalami penurunan debit.

“Kami turun bersama tim ITN Malang karena kondisi di lapangan memang cukup prihatin. Air warga berubah keruh dan tak layak konsumsi, beberapa mata air bahkan mati. Kehadiran tangki air dan tandon penampungan dari ITN Malang ini menjawab kebutuhan mendesak warga saat ini,” ujar Herry.

Bantuan tersebut memberikan alternatif pasokan sementara bagi masyarakat sambil menunggu kondisi jaringan dan sumber air kembali pulih.

Perbaikan Jaringan Air Jadi Fokus Pemulihan

Tidak hanya menyalurkan bantuan, tim di lapangan juga mulai melakukan inventarisasi terhadap kerusakan infrastruktur air bersih.

Kegiatan tersebut dilakukan bersama Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan NTT sebagai bagian dari pemetaan awal kerusakan.

Inventarisasi diperlukan untuk mengetahui kondisi jaringan perpipaan dan menentukan langkah rehabilitasi pada wilayah yang mengalami kerusakan.

Sejumlah daerah seperti Sikka, Ende, dan Manggarai Timur menjadi wilayah yang membutuhkan perhatian terhadap keberlanjutan layanan air bersih pascabencana.

Bagi masyarakat di lokasi terdampak, bantuan air bersih dan tandon menjadi kebutuhan yang langsung dirasakan manfaatnya selama masa darurat.

Sementara bagi ITN Malang, keterlibatan sivitas akademika dan alumni menjadi bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam membantu masyarakat menghadapi dampak bencana.

Sinergi antara kampus, jaringan alumni, pengelola layanan air minum, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat diharapkan dapat terus berlanjut, tidak hanya pada masa tanggap darurat, tetapi juga hingga tahap rehabilitasi dan pemulihan pascagempa.

Dengan dukungan teknis terhadap perbaikan jaringan air bersih, pemulihan di Flores diharapkan tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan sementara, tetapi juga mampu mengembalikan akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar secara berkelanjutan.