Jakarta, 6 Desember 2023 – Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Dokter Erlina Burhan, mengungkapkan bahwa kasus Covid-19 di Indonesia mengalami lonjakan tiga kali lipat pada bulan November 2023 dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Peningkatan ini sejalan dengan tren serupa yang terlebih dahulu terjadi di Singapura dan Malaysia.
Menurut data dari PB IDI, peningkatan kasus mulai signifikan pada pekan pertama November, dengan jumlah kasus mencapai 90. Pekan demi pekan, angka kasus terus meningkat, mencapai puncaknya pada pekan keempat dengan 151 kasus. Pada bulan Oktober sebelumnya, kasus Covid-19 hanya berkisar antara 51 hingga 67 kasus per pekan. Dokter Erlina menekankan bahwa meskipun jumlah kasus tidak tinggi, lonjakan ini menjadi tantangan serius, terutama menghadapi momentum libur Natal dan Tahun Baru.
Pada bulan November, terdapat satu kasus kematian akibat Covid-19, sedangkan pada bulan Oktober tidak ada kasus kematian tercatat. Dokter Erlina menyoroti bahwa banyak orang yang mungkin mengalami gejala Covid-19 namun tidak melakukan pemeriksaan, baik karena tidak gratis maupun menganggap gejala seperti batuk pilek sebagai hal sepele.
Dokter Erlina juga mengingatkan bahwa mobilitas lintas negara tinggi menjelang liburan, dengan turis dari luar dan penduduk Indonesia yang berlibur. Hal ini menjadi perhatian khusus karena capaian vaksinasi booster di Indonesia masih rendah, dengan hanya 38% untuk booster pertama dan hanya 2% untuk booster kedua.
“Capaian vaksinasi dosis pertama masih tinggi 86%, vaksinasi dosis kedua 74%. Nah booster pertama hanya 38%, lalu booster kedua lebih rendah lagi hanya 2%,” ungkap Dokter Erlina.
Dia menyarankan agar masyarakat yang sudah mendapatkan booster pertama untuk kembali mendapatkan booster kedua, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dengan daya tahan tubuh rendah. Hal ini diharapkan dapat mengurangi risiko infeksi dan beratnya penyakit. Dokter Erlina menekankan perlunya perhatian lebih dari pemerintah dalam menghadapi situasi ini, mengingat penegakan protokol kesehatan yang mulai longgar dan ketidakpastian mobilitas lintas negara menjelang libur Natal dan Tahun Baru.***







