Quran.com Cabut Status Default Qari Mishary Rashid Alafasy Usai Kontroversi Cuitan di X

Platform Quran.com cabut status default qari Mishary Rashid Alafasy usai unggahan politik kontroversialnya. Simak alasan platform jaga netralitas untuk jutaan pengguna Muslim global.

Zona Malang – Platform Al-Qur’an digital global Quran.com resmi mengubah pengaturan utama pembaca Al-Qur’an (qari) dengan mencabut status default Mishary Rashid Alafasy. Kebijakan ini diterapkan usai qari kenamaan tersebut mengunggah konten kontroversial bernuansa politik internasional di media sosial, yang memicu perdebatan luas di kalangan komunitas Muslim global.

Kontroversi yang memicu perubahan kebijakan itu bermula dari unggahan Mishary di platform X. Unggahan tersebut berisi pernyataan bernada keras terhadap Iran yang dikaitkan dengan sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam unggahannya yang viral dalam waktu singkat, Mishary menulis “Presiden Trump akan membuka pintu neraka bagi Iran,” yang memicu beragam reaksi dari pengguna internet lintas negara.

Tak lama setelah unggahan itu menyebar luas, banyak pengguna setia Quran.com menyadari perubahan signifikan pada pengaturan audio lantunan Al-Qur’an di platform tersebut. Selama bertahun-tahun, Mishary yang merupakan qari paling populer di kalangan pengguna global menjadi pilihan otomatis setiap kali seseorang memutar ayat Al-Qur’an untuk didengarkan.

Kini, status default tersebut resmi dicabut oleh manajemen Quran.com. Perlu dicatat, rekaman lantunan Al-Qur’an milik Mishary tidak dihapus sepenuhnya dari platform. Pengguna masih bisa mengakses semua rekamannya melalui daftar qari yang tersedia, namun harus memilihnya secara manual karena ia bukan lagi pilihan utama yang muncul otomatis.

Langkah ini dinilai sebagai upaya Quran.com menjaga netralitas platform dari konten atau narasi yang berpotensi memicu polarisasi di kalangan penggunanya. Sebagai situs yang diakses oleh jutaan umat Muslim dari berbagai latar belakang negara, suku, dan keyakinan politik, kebijakan yang menjaga fokus fungsi utama platform sebagai sarana ibadah dan pembelajaran dinilai krusial.

Sejumlah pengamat ekosistem digital keagamaan menilai, keputusan Quran.com tersebut mencerminkan sensitivitas platform berbasis keagamaan terhadap risiko isu geopolitik yang dapat merusak kepercayaan pengguna. Terutama jika isu tersebut melibatkan tokoh berpengaruh di ruang keagamaan seperti Mishary yang memiliki basis penggemar besar di seluruh dunia.

Hingga berita ini diturunkan, Mishary Rashid Alafasy belum mengeluarkan pernyataan resmi apa pun terkait perubahan statusnya di Quran.com. Ia juga belum memberikan klarifikasi atas unggahan kontroversial di media sosial yang memicu polemik tersebut.