Pada Jumat malam, sebuah tragedi mengerikan mengguncang kota Moskow ketika sekelompok pria bersenjata menyerang sebuah gedung konser di pinggiran kota. Menurut pihak berwenang Rusia, serangan ini menyebabkan kematian sedikitnya 60 orang dan melukai 145 lainnya, menjadikannya salah satu serangan paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir di Rusia.
Video yang beredar secara online memperlihatkan momen mengerikan ketika dua pria bertopeng memasuki Balai Kota Crocus, salah satunya melepaskan tembakan secara berulang kali dari senapan serbu. Rekaman lain menunjukkan empat pria bersenjata mengejar sekelompok orang dan menembaki mereka dari jarak dekat.
Dilansir Zona Malang dari The Moscow Times, Seorang wartawan yang berada di gedung konser saat serangan itu terjadi melaporkan bahwa sebuah granat atau bom pembakar dilemparkan setelah penembakan, memicu kebakaran yang membesar. Rekaman yang diterbitkan oleh TASS menunjukkan kebakaran yang meluas di Balai Kota Crocus.
Kelompok Negara Islam mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut melalui saluran Telegramnya. Sayangnya, tiga anak termasuk di antara korban jiwa dalam serangan tragis ini, menurut Kementerian Kesehatan Rusia wilayah Moskow.
Gubernur wilayah Moskow, Andrei Vorobyov, segera bertindak setelah laporan pertama tentang penembakan itu. Dia tiba di tempat kejadian untuk memimpin upaya tanggapan terhadap insiden tersebut. Spetznaz dan unit polisi anti huru hara dikirim sebagai tanggapan, sementara petugas pemadam kebakaran berjuang untuk memadamkan api yang membara di gedung konser.
Menteri Dalam Negeri Rusia, Vladimir Kolokoltsev, juga tiba di lokasi serangan, menunjukkan seriusnya situasi tersebut. Video yang dipublikasikan menunjukkan polisi anti huru hara mengarahkan senjata mereka pada wartawan dan kru kamera yang mencoba meliput acara di luar gedung konser.
Sejumlah besar orang berhasil melarikan diri dari gedung konser melalui berbagai rute penyelamatan. Beberapa melarikan diri melalui ruang bawah tanah teater, sementara yang lain mencari perlindungan di atap gedung.
Kementerian Layanan Darurat Rusia melaporkan bahwa sekitar 100 orang berhasil melarikan diri melalui ruang bawah tanah teater, sementara beberapa lainnya berlindung di atap gedung konser. Diperkirakan sebanyak 6.200 orang berada di dalam gedung konser pada saat serangan itu terjadi.
Meskipun band yang tampil di Balai Kota Crocus pada malam itu, Piknik, tidak mengalami luka, namun tragedi ini tetap meninggalkan dampak yang mendalam pada masyarakat.
Setelah upaya pemadaman api yang berat, Gubernur Vorobyov menyatakan bahwa sebagian besar api telah berhasil dipadamkan. Namun, Komite Investigasi Rusia mengumumkan bahwa mereka membuka kasus terorisme kriminal terkait insiden tersebut.
Presiden Putin, yang segera diberitahu tentang serangan tersebut, berharap pemulihan yang cepat bagi para korban yang terluka. Namun, hingga saat ini, Putin belum memberikan komentar secara terbuka mengenai serangan tersebut.
Serangan ini telah memicu reaksi internasional yang luas, dengan Gedung Putih, Uni Eropa, Prancis, dan negara lainnya mengutuk keras tindakan kekerasan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut penembakan massal tersebut sebagai “serangan teroris berdarah”, sementara Patriark Kirill dari Gereja Ortodoks Rusia berdoa untuk perdamaian bagi jiwa para korban.
Serangan ini juga menjadi pengingat akan tantangan keamanan yang dihadapi oleh Rusia, dengan ancaman teroris yang masih merupakan ancaman serius bagi masyarakat.
Meskipun demikian, upaya penegakan hukum dan tanggapan cepat pemerintah Rusia menunjukkan tekad mereka untuk melindungi warga negara dan menindak para pelaku kejahatan dengan tegas.







