Detik-detik Puluhan Delegasi PBB Ramai-ramai Walk Out Saat PM Israel Netanyahu Hendak Berpidato

Sebuah aksi protes dramatis terjadi dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 di New York, Amerika Serikat. Puluhan delegasi dari berbagai negara serentak meninggalkan ruangan (walk out) sesaat sebelum Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, memulai pidatonya pada Jumat (26/9) waktu setempat.

Insiden yang disiarkan secara langsung ini menunjukkan pemandangan yang tidak biasa, di mana sebagian besar kursi di ruang sidang utama PBB mendadak kosong, mengirimkan pesan politik yang kuat di panggung dunia.

Momen tersebut terjadi tepat setelah pimpinan sidang mempersilakan Netanyahu untuk naik ke podium. Begitu PM Israel tersebut berjalan menuju mimbar, sejumlah besar perwakilan negara mulai berdiri dan berjalan keluar dari ruangan. Suasana menjadi riuh, terdengar teriakan protes bercampur dengan sebagian tepuk tangan.

Pimpinan sidang sempat mencoba menenangkan suasana. “Tolong bertahan di ruangan, dan tolong duduk,” ujarnya, namun imbauan tersebut tidak menghentikan aksi walk out yang terus berlanjut.

Menghadapi puluhan kursi kosong di hadapannya, Netanyahu tampak terdiam sejenak di atas podium sebelum akhirnya memulai pidatonya. Ia membuka pidato dengan mengangkat isu sandera. “Bapak Presiden, keluarga dari para sandera kami mendekam di bawah penjara Gaza,” ucap Netanyahu. Ia kemudian menunjukkan sebuah peta yang menurutnya menggambarkan poros teror Iran.

Bagi Anda yang mengikuti perkembangan geopolitik global, aksi walk out di Sidang Umum PBB ini merupakan sebuah hal penting yang sarat akan makna. Ini adalah salah satu bentuk protes diplomatik paling tinggi dan paling terlihat yang bisa dilakukan di panggung internasional. Tindakan meninggalkan ruangan saat seorang pemimpin negara akan berpidato secara simbolis menunjukkan penolakan keras terhadap kebijakan negara tersebut. Meskipun pidato tetap berjalan, pesan visual dari kursi-kursi yang kosong seringkali berbicara lebih lantang daripada kata-kata yang diucapkan, menandakan adanya perpecahan dan kecaman mendalam dari sebagian besar komunitas dunia.