Langkah Berani Prancis: Macron Akan Akui Negara Palestina, Visi yang Sejalan dengan Presiden Prabowo

Langkah Prancis ini diperkirakan akan menciptakan gelombang diplomatik baru di Barat. Keputusan ini mengikuti jejak Spanyol, Irlandia, dan Norwegia yang telah lebih dulu mengakui Palestina.

JAKARTA – Sebuah pergeseran diplomatik yang signifikan datang dari Eropa. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, pada Jumat (25/7) lalu mengumumkan bahwa negaranya akan secara resmi mengakui Negara Palestina pada September 2025 mendatang.

Keputusan bersejarah ini menjadikan Prancis sebagai negara Kelompok Tujuh (G7) pertama yang mengambil langkah konkret tersebut, sebuah kebijakan yang sangat sejalan dengan visi diplomatik yang selama ini diperjuangkan oleh Presiden Indonesia, Prabowo Subianto.

Pengumuman resmi pengakuan tersebut, menurut Macron, akan disampaikan dalam rangkaian Sidang Umum Tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Keputusan ini telah dikomunikasikan secara resmi kepada Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, melalui surat yang diantar langsung oleh Konsul Prancis di Yerusalem.

“Sejalan dengan komitmen historis Prancis terhadap perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah, saya telah memutuskan bahwa Prancis akan mengakui Negara Palestina,” ujar Macron dalam sebuah unggahan di media sosial.

Sikap Prancis ini merefleksikan kesamaan pandangan dengan Indonesia mengenai solusi dua negara (two-state solution), yang menjadi inti dari pembahasan antara Presiden Prabowo dan Presiden Macron dalam pertemuan mereka di Jakarta pada Mei dan di Paris pada Juli lalu.

Di berbagai forum, Presiden Prabowo secara konsisten menyuarakan bahwa solusi dua negara adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian abadi.

Prabowo bahkan telah menawarkan sebuah langkah diplomatik besar: Indonesia siap mengakui Israel dan membuka hubungan diplomatik, dengan syarat mutlak bahwa Israel terlebih dahulu mengakui kedaulatan negara Palestina.

“Begitu negara Palestina diakui oleh Israel, Indonesia siap untuk mengakui Israel,” tegas Prabowo dalam sebuah pernyataan bersama Macron di Istana Merdeka beberapa waktu lalu.

Kesamaan visi kedua pemimpin negara ini juga terlihat dalam menyikapi krisis kemanusiaan di Gaza. Baik Indonesia maupun Prancis sama-sama mendesak diberlakukannya gencatan senjata segera dan dijaminnya akses kemanusiaan penuh tanpa hambatan bagi warga sipil yang terdampak konflik.

Langkah Prancis ini diperkirakan akan menciptakan gelombang diplomatik baru di Barat. Keputusan ini mengikuti jejak Spanyol, Irlandia, dan Norwegia yang telah lebih dulu mengakui Palestina, serta memberikan tekanan tambahan pada negara-negara besar lainnya, termasuk Inggris.

Namun, Amerika Serikat dilaporkan tidak akan ambil bagian dalam konferensi tingkat menteri mengenai pengakuan Palestina yang akan digelar pekan depan, menunjukkan adanya perbedaan sikap di antara negara-negara Barat.