Zona Malang – Kilang-kilang minyak di India telah meningkatkan pembelian minyak mentah Rusia secara drastis dalam dua bulan terakhir. Tren ini diperkirakan akan berlanjut hingga akhir tahun 2026, karena India menghadapi tantangan pasokan dari Timur Tengah dan ancaman sanksi Amerika Serikat yang mulai mereda, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Para eksekutif dari beberapa kilang terkemuka menyampaikan ekspektasi bahwa pengecualian dari AS, yang memungkinkan transaksi pembelian minyak Rusia, akan diperpanjang sebelum masa berlakunya berakhir dalam beberapa hari ke depan.
Bahkan tanpa perpanjangan pengecualian, volume pembelian kemungkinan tidak akan menurun, mengingat terbatasnya pilihan pasokan yang tersedia bagi India. Sujata Sharma, sekretaris jenderal Kementerian Minyak India, menanggapi pertanyaan mengenai pentingnya pengecualian AS. Beliau mengatakan bahwa prioritas utama India adalah memperoleh energi yang diperlukan guna memenuhi permintaan domestik.
Menurutnya, keputusan ini didorong oleh kelayakan teknis dan komersial minyak mentah Rusia, serta manfaat komersial yang dihasilkan bagi kilang-kilang di India. Data dari perusahaan intelijen Kpler menunjukkan bahwa impor minyak dari Rusia mencapai rata-rata 1,98 juta barel per hari pada Maret 2026, menjadikannya volume tertinggi sejak Juni 2023.
Meskipun angka tersebut turun menjadi 1,57 juta barel per hari pada April, penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh penutupan kilang Nayara Energy yang berkapasitas 400.000 barel per hari untuk pemeliharaan. Kilang Nayara Energy sendiri sebagian besar mengandalkan minyak mentah Rusia. Para eksekutif memperkirakan volume impor akan kembali meningkat mulai bulan depan.
Vandana Hari, pendiri perusahaan konsultan Vanda Insights yang berbasis di Singapura, menyatakan bahwa India tengah berupaya mengamankan seluruh pasokan minyak mentah Rusia yang dapat diperolehnya. Ia memprediksi bahwa India akan terus memaksimalkan impor minyak dari Rusia selama pasokan dari Teluk Persia tetap terbatas.
Sebagai importir minyak terbesar ketiga di dunia, India beralih menjadi pembeli minyak melalui jalur laut terbesar dari Rusia setelah invasi ke Ukraina pada tahun 2022. Saat itu, India memanfaatkan harga yang sangat kompetitif ketika negara-negara lain mulai menarik diri dari pasar Rusia. Situasi ini berubah tahun lalu ketika Presiden AS Donald Trump menekan India untuk menghentikan impor, menerapkan tarif hukuman, dan akhirnya menjatuhkan sanksi kepada dua produsen utama Rusia.
Namun, serangan AS dan Israel terhadap Iran serta penutupan Selat Hormuz mengubah kalkulasi bagi semua pihak. Washington berupaya menekan harga minyak global, sementara India bergegas mengamankan pasokan. Pengecualian pertama yang mengizinkan pembelian minyak Rusia dikeluarkan pada awal Maret 2026, dan sejak itu telah diperluas serta diperpanjang.
Setelah pengecualian awal diberikan, India membeli sekitar 60 juta barel minyak untuk pengiriman pada bulan April. Pada paruh kedua tahun lalu, minyak mentah Rusia sempat menumpuk di laut karena India mengurangi pembelian, khawatir akan kritik dan tarif tambahan dari Washington. Volume minyak yang tertahan di laut mencapai puncaknya pada awal Januari, sekitar 155 juta barel, naik signifikan dari sekitar 93,2 juta barel pada pertengahan tahun lalu, menurut data dari perusahaan intelijen Vortexa.
Kini, angka tersebut berada di sekitar 100 juta barel di laut, mendekati level yang terakhir terlihat setahun lalu. Departemen Keuangan AS juga telah memberikan pengecualian yang memungkinkan akses sementara terhadap minyak Iran yang diangkut melalui laut. India secara terbuka menyatakan akan mempertimbangkan minyak mentah Iran sebagai salah satu opsi. Namun, perusahaan pengolah minyak melaporkan keberhasilan yang terbatas dalam beralih ke alternatif tersebut, sebagian karena kekhawatiran terkait pemasok dan pihak perantara lainnya.
Sejak perang enam minggu di Teluk Persia dimulai, India yang mengimpor sekitar 90 persen minyak mentahnya dan bergantung pada aliran melalui Selat Hormuz, menghadapi kekurangan pasokan, lonjakan harga, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang melambat. India juga kesulitan mendapatkan gas alam cair atau LNG, komoditas yang ditawarkan Rusia kepada pembeli di Asia dengan diskon 40 persen dari harga pasar spot, meskipun sanksi masih berlaku.







