Setahun Serangan Israel, Gaza Masih Dilanda Krisis Kemanusiaan: 42 Ribu Warga Palestina Tewas, 174 Jurnalis Jadi Korban

Gaza – Setahun setelah serangan militer Israel yang dimulai pada 7 Oktober 2023, Jalur Gaza masih dilanda krisis kemanusiaan parah. Serangan yang berkelanjutan telah menyebabkan lebih dari 42 ribu warga Palestina tewas. Berdasarkan laporan terbaru dari Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS), jumlah korban jiwa mencapai 42.411 orang, dengan mayoritas korban, yaitu 41.689, berasal dari Jalur Gaza, sementara 722 lainnya di Tepi Barat.

Tragedi ini juga menimpa dunia jurnalisme, di mana sedikitnya 174 jurnalis tewas dalam serangan yang tak kunjung berhenti. Menurut data yang dirilis oleh International Federation of Journalists (IFJ), infrastruktur media di Gaza telah hancur, dengan 21 stasiun radio lokal, 15 kantor berita, 15 stasiun televisi, 6 surat kabar, 3 menara penyiaran, serta 8 media cetak dan 13 lembaga media lainnya mengalami kerusakan total.

Kondisi ini membuat ruang redaksi di Gaza nyaris musnah, meninggalkan para jurnalis lokal dalam keterbatasan untuk terus melaporkan kondisi di lapangan. Selama setahun terakhir, hanya wartawan lokal yang mampu memberikan informasi dari Gaza karena pemerintah Israel melarang kehadiran media asing serta menargetkan para wartawan dalam serangan militernya.

Pusat Solidaritas Media: Benteng Terakhir Para Jurnalis

Di tengah kehancuran masif ini, Pusat Solidaritas Media IFJ-PJS yang terletak di Khan Yunis, Gaza Selatan, menjadi satu-satunya tempat perlindungan bagi para jurnalis yang tersisa. Pusat ini didirikan dengan bantuan berbagai serikat pekerja internasional, termasuk Unifor dari Kanada dan Serikat Jurnalis Norwegia. Tempat ini memungkinkan lebih dari 500 pekerja media berkumpul, menyusun berita, mengisi daya perangkat elektronik, dan berdiskusi mengenai siaran-siaran TV berikutnya.

Direktur Departemen Internasional Unifor, Navjeet Sidhu, mengatakan, “Kami merasa perlu memberikan dukungan kepada jurnalis Gaza yang setiap hari menghadapi risiko kematian di tengah perang ini.” Fasilitas tersebut juga memberikan perlindungan bagi jurnalis perempuan seperti Nahil Al-Azbaki, yang menekankan pentingnya fasilitas ini bagi keberlangsungan media di Gaza.

Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan dan ancaman yang terus berlanjut, para jurnalis di Gaza tetap berjuang untuk menyampaikan kebenaran di tengah krisis yang tampaknya tak kunjung berakhir.