Zona Malang – Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, M.M., menghadiri acara “Festival Adat Budaya Desa Srigonco, Selamatan Adat Sesaji 1 Suro ke-118” yang diadakan di Pendopo Pantai Regent Balekambang pada Selasa (9/7) siang. Acara tersebut juga dihadiri oleh jajaran Kepala Perangkat Daerah Kabupaten Malang, Camat dan Forkopimcam Bantur, serta tokoh agama dan masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Bupati Malang menekankan dukungannya terhadap pelaksanaan kegiatan ini, yang dianggap sebagai momen penting untuk mempererat kebersamaan di antara warga Desa Srigonco dan sekitarnya. Ia menyatakan, “Kegiatan ini menjadi kebanggaan dan kebahagiaan karena kita bisa menyaksikan langsung suasana guyub rukun di antara warga. Semoga acara ini menjadi wadah silaturahmi untuk memperkokoh semangat kekeluargaan dan kebersamaan kita semua.”
Penyambutan bulan Suro sebagai awal tahun memiliki makna sakral dan suci, terutama bagi masyarakat Jawa. Bulan Suro adalah bulan pertama dalam penanggalan Jawa yang merupakan hasil akulturasi budaya Islam dan Jawa. Kedua budaya ini memiliki keistimewaan tersendiri bagi masyarakat Jawa.
Bupati Malang menjelaskan bahwa bulan Suro juga diyakini sebagai bulan keramat dalam kehidupan spiritual. Sebagian masyarakat merasa perlu untuk menyambut bulan ini dengan melaksanakan “lelaku” yang bertujuan mengingatkan manusia kepada Sang Pencipta dan membersihkan desa dari segala marabahaya. “Di Kabupaten Malang, kegiatan larung sesaji diselenggarakan turun-temurun sebagai sarana untuk merefleksikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas melimpahnya hasil bumi bagi seluruh masyarakat. Diharapkan, segala anugerah dan karunia ini akan terus dilimpahkan kepada Kabupaten Malang, sehingga baik warga maupun wilayahnya selalu dalam keadaan sejahtera, makmur, aman, dan sentosa,” tutur Bupati Malang.
Kegiatan larung sesaji pada hari tersebut merupakan simbol menyatunya alam semesta dengan manusia, yang berhubungan erat dengan cara bersyukur kepada Sang Pencipta, memahami manusia, dan berelasi dengan alam berdasarkan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu. Menurut Bupati Malang, “Larung sesaji ini tidak lain adalah upaya kita untuk menciptakan keselarasan dan keserasian dengan alam semesta.”
Dalam momen tersebut, Bupati Malang juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama memanjatkan doa kepada Allah SWT agar Kabupaten Malang selalu dinaungi keselamatan, kemakmuran, dan kesejahteraan, serta dijauhkan dari segala musibah dan marabahaya. “Kita tidak boleh lupa bahwa kita juga berkewajiban untuk selalu menjaga diri dari perbuatan yang membawa kerusakan, baik bagi diri sendiri, orang lain, maupun alam dan lingkungan sekitar kita,” ucapnya.
Selamatan Adat Sesaji 1 Suro di Desa Srigonco bukan sekadar perayaan, melainkan juga momen refleksi spiritual dan sosial bagi masyarakat. Acara ini menyatukan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemerintahan hingga tokoh agama dan masyarakat umum, dalam semangat kebersamaan dan kekeluargaan. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk merenungkan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam dan menghormati warisan budaya yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.
Kegiatan ini juga menunjukkan komitmen masyarakat Kabupaten Malang dalam melestarikan tradisi dan nilai-nilai budaya yang kaya. Dalam suasana yang penuh hikmat dan kebersamaan, acara ini menjadi wadah untuk menguatkan jalinan silaturahmi antarwarga, mempererat hubungan antarumat beragama, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam.
Selain itu, Selamatan Adat Sesaji 1 Suro juga menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya dan tradisi lokal kepada generasi muda. Dalam era globalisasi saat ini, menjaga dan melestarikan budaya lokal menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, acara seperti ini sangat penting untuk mengingatkan generasi muda akan kekayaan budaya yang dimiliki dan pentingnya menjaga identitas budaya.
Di balik kemeriahan acara, terdapat nilai-nilai spiritual yang mendalam. Bulan Suro, sebagai bulan yang dianggap suci dan keramat, membawa pesan tentang pentingnya introspeksi diri dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Kegiatan lelaku yang dilakukan masyarakat bukan hanya sebagai bentuk ritual, tetapi juga sebagai wujud nyata dari rasa syukur dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Keseluruhan acara tersebut mencerminkan harmoni antara manusia dan alam, serta antara manusia dengan Tuhannya. Bupati Malang berharap agar acara ini dapat terus dilestarikan dan menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menjaga tradisi dan budaya lokal.
Melalui acara seperti Selamatan Adat Sesaji 1 Suro, diharapkan masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan material dan spiritual. Dengan demikian, keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta dapat terwujud, membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seluruh masyarakat.







