Festival Merjosarian 2024: Tradisi dan Syukur dalam Pagelaran Seni

Zona Malang – Pada Minggu, 14 Juli 2024, Penjabat (Pj.) Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM menghadiri penutupan Festival Merjosarian 2024 yang meriah dengan Pagelaran Wayang Kulit di Lapangan Plaza Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Festival ini adalah bagian dari tradisi Bersih Desa, sebuah ungkapan rasa syukur masyarakat Merjosari atas kesejahteraan yang telah mereka nikmati.

Tradisi Bersih Desa dan Rasa Syukur

Pj. Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM, menyatakan bahwa Festival Merjosarian adalah bentuk konkret dari rasa syukur masyarakat Merjosari yang diwujudkan melalui kegiatan Bersih Desa. “Rasa syukur ini dituangkan dalam Festival Merjosarian atau Bersih Desa yang memang sudah menjadi tradisi,” jelas Wahyu. Selain itu, festival ini juga berfungsi sebagai sarana pelestarian seni budaya lokal yang kaya.

Tradisi serupa juga diadakan di berbagai kelurahan lain di Kota Malang, masing-masing dengan kearifan lokalnya sendiri. Misalnya, terdapat kegiatan Suroan, Festival Padang Mbulan, dan berbagai acara lainnya yang juga patut dilestarikan. “Ada Suroan, ada Festival Padang Mbulan, dan kegiatan-kegiatan menarik lainnya yang patut untuk dilestarikan,” tambah Wahyu.

Festival Merjosarian: Perayaan dan Kebersamaan

Ketua Pelaksana Festival Merjosarian 2024, Misranto, mengungkapkan bahwa festival ini berlangsung sejak Sabtu, 6 Juli 2024, dan berakhir pada Minggu, 15 Juli 2024. Festival ini diramaikan dengan berbagai acara, termasuk pagelaran wayang kulit, ngaji budaya, dan santunan anak yatim. “Alhamdulillah, sejak hari pertama hingga penutupan, antusiasme masyarakat sangat luar biasa,” kata Misranto.

Festival Merjosarian juga merupakan bentuk rasa syukur menyambut datangnya bulan Muharam dan mendoakan para pendahulu yang telah membangun Merjosari, terutama Mbah Joyo Tirto. “Festival Merjosarian ini juga untuk mendoakan para pendahulu yang telah membangun Merjosari, yakni Mbah Joyo Tirto,” ungkap Misranto.

Karena itulah, nama-nama jalan di wilayah Kelurahan Merjosari selalu diawali dengan kata ‘Joyo’, seperti Jalan Joyo Raharjo, Jalan Merto Joyo, dan Jalan Joyo Pringgodani. “Ini semua dikenang untuk menyatukan seluruh masyarakat Merjosari agar senantiasa guyub rukun, adem ayem tentrem bersama menghidupkan dan membangun Merjosari,” beber Misranto.

Melibatkan UMKM dan Pelaku Seni

Festival Merjosarian tidak hanya melibatkan pelaku seni, tetapi juga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ada di wilayah Merjosari. Kegiatan-kegiatan dalam festival ini mencakup Khotmil Quran di Makam Mbah Joyo, ziarah kubur, pentas budaya, doa akhir dan awal tahun, ngaji budaya, dan santunan anak yatim.

Acara ini menunjukkan betapa kuatnya kebersamaan dan semangat gotong royong dalam masyarakat Merjosari. Antusiasme warga yang tinggi terhadap festival ini mencerminkan betapa pentingnya tradisi dan rasa syukur dalam kehidupan masyarakat, sekaligus upaya pelestarian budaya yang sangat berharga.

Kesimpulan

Festival Merjosarian 2024 tidak hanya sebagai perayaan tradisi, tetapi juga sebagai ajang untuk memperkuat kebersamaan dan rasa syukur masyarakat Merjosari. Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk pelaku seni dan UMKM, festival ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi dan budaya dapat hidup berdampingan dengan perkembangan zaman, menjaga harmoni dan kesejahteraan komunitas lokal.

Semoga Festival Merjosarian dan berbagai tradisi lainnya di Kota Malang terus berlanjut dan berkembang, menjadi warisan budaya yang menguatkan identitas serta kebanggaan masyarakat.