MALANG, Zona Malang – Universitas Brawijaya (UB) Malang siap menjadi tuan rumah pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) pada 23 April mendatang. Sebagai salah satu perguruan tinggi yang ditunjuk sebagai penyelenggara UTBK, UB akan menerima 16 peserta difabel yang akan mengikuti ujian.
Sekretaris Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik UB, Arif Hidayat, S.Kom., M.M., mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan satu ruangan khusus bagi peserta difabel di Ruang Lab 1 gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB. Peserta difabel yang akan mengikuti UTBK di UB terdiri dari penyandang disabilitas daksa, penyandang disabilitas rungu, dan penyandang disabilitas netra.
Untuk peserta penyandang disabilitas netra, mereka akan ditempatkan pada sesi 3 UTBK. Sementara itu, penyandang disabilitas rungu dan penyandang disabilitas daksa akan dibedakan dalam beberapa sesi. Arif menjelaskan bahwa khusus untuk penyandang disabilitas netra, dibutuhkan peralatan khusus sehingga mereka hanya akan mengikuti sesi 3. “Sementara untuk difabel lain tidak memerlukan peralatan khusus, hanya diperlukan akses menuju ruangan yang ramah difabel,” imbuhnya.
Dalam pelaksanaan UTBK tersebut, UB juga akan menerjunkan pengawas ujian yang memiliki keterampilan pendampingan dari tim Subdirektorat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif Universitas Brawijaya (SLDPI). Ketua SLDPI UB, Zubaidah Ningsih AS., Ph.D., menjelaskan bahwa bentuk pendampingan yang akan dilakukan adalah kerja sama antara SLDPI dengan tim petugas lapangan di lokasi masing-masing calon mahasiswa.
Zubaidah menyatakan bahwa pendampingan dilakukan dengan pemetaan akomodasi yang dibutuhkan oleh masing-masing peserta difabel. Untuk penyandang disabilitas netra, misalnya, akan dibantu dengan pengaturan tampilan komputer agar lebih jelas terlihat, seperti menggunakan font yang lebih besar dan latar belakang gelap dengan tulisan terang. Bagi penyandang disabilitas netra total, akan dibantu memastikan apakah materi ujian dapat terbaca dengan screen reader atau tidak.
Sementara itu, untuk penyandang disabilitas daksa, akan dibantu dalam mobilitas menuju dan dari lokasi ujian, serta membantu dalam teknis pengerjaan soal, seperti membantu untuk duduk. Untuk penyandang disabilitas rungu, biasanya dapat lebih mandiri dalam mengerjakan soal, namun perlu dibantu untuk memahami aba-aba dari pengawas dan mendapatkan informasi berbasis suara, seperti peringatan waktu tersisa.
Zubaidah menegaskan bahwa pendamping hanya akan membantu dalam teknis pelaksanaan ujian, tetapi tidak akan mengintervensi apapun dalam pengerjaan soal. “Calon mahasiswa tetap mandiri dalam merumuskan jawaban soal,” tegas Zubaidah.
Selain menyiapkan fasilitas dan pendampingan bagi peserta difabel, UB juga berkomitmen untuk memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh calon mahasiswa, termasuk bagi para penyandang disabilitas. Hal ini sejalan dengan upaya UB untuk mewujudkan kampus yang inklusif dan ramah bagi seluruh civitas akademika.
Dengan adanya persiapan yang matang dan komitmen yang kuat dari UB, diharapkan pelaksanaan UTBK di kampus ini dapat berjalan dengan lancar dan memberikan pengalaman yang positif bagi seluruh peserta, khususnya bagi para penyandang disabilitas. Kesuksesan penyelenggaraan UTBK di UB juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi lainnya dalam mewujudkan kesetaraan dan inklusi bagi seluruh calon mahasiswa.







