“Kelompok radikal seringkali memaksakan pandangan mereka sebagai satu-satunya kebenaran, dan menganggap pandangan lain sebagai salah dan sesat. Hal ini dapat memicu konflik dan kekerasan,” ujarnya.
Selain itu, radikalisme agama juga dapat timbul karena adanya rasa frustasi dan kekecewaan terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang dirasakan tidak adil.
“Kelompok radikal seringkali memanfaatkan situasi ini untuk menarik simpatisan dan memperkuat gerakan mereka,” tambahnya.
Untuk mengatasi masalah radikalisme agama, Drs. H. Asep Saeful Muhtadi, M.Si. menekankan pentingnya upaya deradikalisasi yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan tokoh agama.
“Pemerintah perlu memperkuat upaya deradikalisasi dan mencegah penyebaran paham radikal di masyarakat. Masyarakat juga perlu berperan aktif dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi, pluralisme, dan perdamaian,” jelasnya.
Selain itu, peran tokoh agama juga sangat penting dalam memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran agama dan menolak segala bentuk radikalisme.
“Mereka harus mampu menjadi panutan dan teladan bagi umat dalam menjalankan ajaran agama secara moderat dan damai,” ungkapnya.







