Seorang pria bernama Satip (74), yang tinggal di Dusun Lambangkuning, Desa Majangtengah, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, menjadi korban tragedi pembunuhan yang diduga dilakukan oleh tetangganya sendiri, Mariono (57), di sebuah makam leluhur di Dusun Sentong, Desa Rembun, Kecamatan Dampit, pada hari Minggu, 28 April 2024, sore hari.
Satip diduga menjadi korban penganiayaan dengan menggunakan benda tumpul, yang menyebabkan dia mengalami dua luka di kepala dan satu luka di mulutnya. Akibat serangan tersebut, Satip meninggal saat sedang menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan, pada malam hari yang sama.
Kapolsek Dampit, AKP Bagus Wijanarko, menjelaskan bahwa peristiwa tragis ini bermula dari adanya konflik antara pelaku dan korban di sebuah makam leluhur di wilayah mereka.
Pelaku, Mariono, mendatangi korban dan menanyakan keberadaan sepeda motor milik anaknya yang diduga diambil oleh Satip. Namun, pertanyaan tersebut dijawab dengan penolakan oleh Satip, yang mengklaim tidak pernah mengambil sepeda motor tersebut.
Situasi semakin memanas ketika korban mencoba mengambil balok kayu untuk membela diri, namun sayangnya kayu tersebut direbut oleh pelaku dan digunakan untuk menganiaya korban secara brutal hingga membuatnya tidak sadarkan diri.
Baca Juga: Motif Pembunuhan di Wagir Terungkap: Faktor Ekonomi hingga Ajakan Hubungan Sesama Jenis
Setelah melakukan aksi kekerasan itu, pelaku pergi meninggalkan korban dan memberitahukan kepada warga sekitar bahwa dia telah melakukan penganiayaan terhadap korban.
Warga segera mendatangi lokasi kejadian dan menemukan korban tergeletak di tanah dengan luka-luka yang parah. Pelaku, Mariono, berhasil diamankan oleh petugas kepolisian dan saat ini sedang menjalani proses hukum.
Menurut Kasi Kesejahteraan Masyarakat Desa Majangtengah, Mujiono, Mariono dan Satip adalah tetangga yang tinggal tidak jauh satu sama lain, dengan jarak sekitar 100 meter antara rumah mereka.
Meskipun demikian, Mujiono tidak mengetahui secara pasti apa yang menjadi penyebab konflik antara keduanya. Dia hanya menyebutkan bahwa Mariono adalah sosok yang memiliki sifat temperamen.
Mariono sendiri memiliki riwayat kejahatan sebelumnya, terutama dalam kasus-kasus penganiayaan terhadap warga setempat. Dia bahkan telah beberapa kali masuk penjara akibat perilaku kekerasannya tersebut. Namun, demikian, motif dari pembunuhan terhadap Satip belum dapat dipastikan dengan jelas.
Kejadian ini menjadi peringatan akan pentingnya penyelesaian konflik secara damai dan penanganan kasus-kasus kekerasan di masyarakat. Semoga tragedi seperti ini tidak terulang lagi di masa yang akan datang, dan keadilan dapat ditegakkan bagi korban serta pelaku kekerasan.






