Malang, 23 Juli 2024 – Dini hari tadi, warga Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, dikejutkan oleh kebakaran hebat yang melanda sebuah kandang ayam milik Sriyatin (45). Kobaran api yang bermula dari lantai dua bangunan berlantai tiga tersebut dengan cepat menghanguskan seluruh struktur berukuran 8 x 100 meter, menyisakan puing-puing dan kerugian yang diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.
Ipda Dicka Ermantara, Kasihumas Polres Malang, dalam keterangannya kepada pers menjelaskan kronologi kejadian. “Api pertama kali terlihat di lantai dua, tepatnya di bagian tengah kandang yang memiliki tungku oven atau penghangat ayam berbahan bakar arang,” ujarnya. Dalam waktu singkat, kurang dari dua jam, api telah melahap habis seluruh bangunan.
Begitu menerima laporan sekitar pukul 03.00 WIB, pihak kepolisian bergerak cepat. “Kami langsung menghubungi Pemadam Kebakaran dan mengerahkan empat unit mobil pemadam dari Pemkab Malang,” lanjut Ipda Dicka. Selain membantu pemadaman, polisi juga mengatur arus lalu lintas dan mengamankan area untuk mencegah jatuhnya korban tambahan.
Berkat kerja keras petugas pemadam kebakaran dan bantuan warga setempat, api berhasil dipadamkan sekitar pukul 04.15 WIB. Meskipun tidak ada korban jiwa, kejadian ini meninggalkan trauma mendalam bagi pemilik dan warga sekitar.
“Saya terbangun karena mendengar teriakan tetangga. Begitu keluar rumah, saya melihat api sudah membesar. Rasanya seperti mimpi buruk,” ungkap Suminah (50), tetangga korban yang tinggal tak jauh dari lokasi kejadian.
Saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti kebakaran. “Kami sedang melakukan olah TKP dan menyelidiki berbagai kemungkinan, mulai dari korsleting listrik hingga faktor kelalaian manusia,” tegas Ipda Dicka.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat akan pentingnya kewaspadaan dan penerapan standar keamanan yang ketat, terutama di area peternakan yang rentan terhadap risiko kebakaran.
“Kami berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga. Pemilik kandang atau bangunan serupa harus lebih memperhatikan aspek keamanan, terutama terkait penggunaan alat pemanas dan instalasi listrik,” tambah Ipda Dicka.
Sementara penyelidikan berlanjut, warga Desa Kanigoro bersatu padu memberikan dukungan kepada keluarga Sriyatin. Beberapa tokoh masyarakat setempat bahkan mulai menggagas inisiatif penggalangan dana untuk membantu pemulihan ekonomi korban.
“Ini bukan hanya masalah Ibu Sriyatin, tapi masalah kita bersama. Kami akan berusaha membantu sebisa mungkin,” ujar Haji Slamet, ketua RT setempat.
Peristiwa ini menjadi cambuk bagi pihak berwenang untuk lebih memperketat pengawasan dan regulasi terkait keamanan bangunan, khususnya yang digunakan untuk kegiatan peternakan. Masyarakat pun diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan dan saling mengingatkan akan pentingnya aspek keselamatan dalam kehidupan sehari-hari.***






