Viral Maling Ayam Dikeroyok Massa di Turen Malang, Ternyata Remaja Yatim Piatu

viral di media sosial mengenai pengeroyokan terhadap maling ayam di Kabupaten Malang menuai perhatian publik. Belakangan diketahui, pelaku pencurian adalah remaja yatim piatu berusia 15…

Kabupaten Malang – Sebuah video viral di media sosial mengenai pengeroyokan terhadap maling ayam di Kabupaten Malang menuai perhatian publik. Belakangan diketahui, pelaku pencurian adalah remaja yatim piatu berusia 15 tahun yang terpaksa mencuri demi bertahan hidup.

Kapolsek Turen Kompol Hari Subagyo melalui Kanit Reskrim Polsek Turen Iptu Sigit Hernadi memberikan klarifikasi terkait kasus tersebut.

“Memang tadi malam ada warga (pencuri) yang tertangkap, tapi (jumlah massa) tidak sebanyak itu, bukan,” ungkap Sigit kepada wartawan, Jumat (26/7/2024) malam.

Sigit menjelaskan bahwa kejadian pencurian terjadi di Desa Tawangrejeni, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Pelaku, remaja 15 tahun, mencuri tiga ekor ayam milik tetangganya dengan total nilai sekitar Rp 300 ribu.

“Dia masih kecil, di bawah umur, usianya masih 15 tahun. Informasinya yatim piatu,” ujar Sigit.

Lebih lanjut, Sigit mengungkapkan bahwa kasus ini telah diselesaikan secara kekeluargaan. Korban telah memaafkan pelaku dan tidak ingin melanjutkan kasus ke ranah hukum.

“Sudah ada pernyataan pemberian maaf juga dari yang punya ayam,” katanya.

Penyelidikan polisi mengungkap bahwa remaja tersebut terpaksa mencuri karena kondisi ekonomi yang sulit. Setelah menjadi yatim piatu, ia tinggal bersama neneknya yang juga hidup dalam kekurangan.

“Mencuri karena mungkin tidak punya duit, orang tuanya (pelaku) sudah tidak ada, sudah meninggal dunia, artinya memang kurang perhatian,” imbuh Sigit.

Pihak kepolisian telah berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk memberikan perhatian dan pembinaan kepada remaja tersebut.

“Sebetulnya dari pihak desa juga harus ada perhatian, saya sampaikan ‘tolong, apa pun itu, dia juga warga negara yang butuh perhatian, butuh makan,” ujarnya.

Sigit juga membantah kabar bahwa remaja tersebut dihakimi massa. “Anaknya (pelaku) masih utuh (tidak babak belur). Mohon diluruskan bahwa kejadian itu situasinya tidak seperti yang sedang viral. Tadi saya juga sudah cek kesehatan anaknya, tidak dihakimi massa, sehat,” pungkasnya.

Kasus ini menyoroti pentingnya kepedulian masyarakat terhadap anak-anak yatim piatu dan keluarga kurang mampu di sekitar mereka. Semoga dengan adanya perhatian dari pemerintah desa dan masyarakat, remaja tersebut bisa mendapatkan bantuan yang diperlukan untuk kehidupan yang lebih baik.